Monday, 24 August 2026

Mereka Mengatasnamakan Rakyat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Banyak teriakan atau tulisan yang mengatasnamakan rakyat.

Rakyat ingin begitu!

Ini suara rakyat!

Demi rakyat!

Ini kehendak rakyat!

Rakyat tidak setuju!


Rakyat (Foto: KOMPAS com)


            Gus Dur bertanya, “Rakyat yang mana? Di mana alamatnya?”

            Bisakah menjawab pertanyaan Gus Dur alias Presiden Abdurahman Wahid?

            Saya yakin kebanyakan orang yang berteriak itu tidak bisa menjawabnya. Hal itu disebabkan rakyat yang mereka sebutkan itu tidak bisa diukur dan tidak bisa dideteksi keberadaannya.

            Benar mereka adalah rakyat, tetapi seberapa banyak mereka?

            Paling juga hanya dirinya, keluarganya, atau beberapa teman mereka. Artinya, mereka tidak bisa diklaim sebagai suara seluruh atau mayoritas rakyat Indonesia. Mereka hanya beberapa gelintir orang dibandingkan seluruh rakyat Indonesia ini. Suara mereka bisa didengar ataupun tidak, bergantung pada orang-orang yang punya kekuasaan. Rakyat ya rakyat, mereka ya mereka.

            Orang yang berhak dan jelas menyuarakan dan memperjuangkan rakyat adalah orang-orang yang menduduki jabatan atau kekuasaan yang dipilih oleh rakyat. Mereka bahkan digaji untuk itu dari uang rakyat juga. Mereka adalah Presiden, Wapres, gubernur hingga ke-RT, lalu ada Dewan Perwakilan Rakyat, baik pusat maupun daerah. Mereka punya kekuatan, hak, dan kewajiban untuk memperjuangkan rakyat. Rakyat yang mereka maksud adalah rakyat yang memilih mereka. Rakyat yang mereka aspirasikan jelas jumlahnya dan jelas pula hitungannya, bisa dideteksi. Bahkan, jika mereka mau, bisa menunjukkan KTP para pemilihnya. Mereka punya kedudukan karena mereka dipilih rakyat. Merekalah yang punya kejelasan hubungan dengan rakyat dibandingkan orang-orang yang mengatasnamkan rakyat, tetapi tidak jelas rakyat mana yang mereka maksud.

            Dalam dunia demokrasi wajar saja ada yang suka, setuju, tidak suka, atau tidak setuju dengan kebijakan mereka. Artinya, ada rakyat yang suka dan tidak suka. Normal saja. Akan tetapi, orang-orang itu punya kejelasan lebih dibandingkan dengan orang-orang yang mengatasnamakan rakyat tanpa jelas rakyat yang mana. Wajar juga jika ada yang kecewa dan senang dengan kebijakan orang-orang yang dipilih rakyat itu.         

Seringlah minum susu tanpa gula supaya lebih sehat dan lebih lancar berpikir.

Ilustrasi rakyat saya dapatkan dari KOMPAS com.

            Sampurasun.

Thursday, 20 August 2026

Londo Ireng


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Londo ireng, Belanda hitam, atau penjajah hitam awalnya adalah sebutan bagi pasukan Belanda penjajah Indonesia yang berasal dari Negara Ghana, Afrika Barat, berkulit hitam. Belanda menggunakan orang-orang Ghana untuk menjajah Indonesia. Sebutan londo ireng meluas diarahkan kepada siapa saja dan berasal dari mana saja meskipun kulitnya tidak putih, tetapi menjajah rakyat Indonesia, seperti, dari India dan dari Indonesia sendiri.


Londo Ireng, Belanda Hitam (Foto: Indonesia Online)


            Pada zaman Presiden Soekarno istilah  londo ireng diarahkan pada para aktivis, politisi, dan siapa pun yang dianggap mengganggu pemerintah dan pro-Barat. Soekarno menuding siapa pun yang berpihak ke Barat adalah gangguan terhadap pemerintah dan menginginkan Indonesia diatur oleh pihak Barat yang berkulit putih.

            Pada zaman Presiden Prabowo sebutan londo ireng ditujukan pada para aktivis, politisi, LSM, mahasiswa, pengamat, jurnalis, akademisi, dan siapa pun yang dianggap mengganggu jalannya pemerintahan. Apalagi jika Prabowo mendapatkan informasi bahwa orang-orang ini didanai oleh pihak asing, pihak Barat berkulit putih, bahkan meskipun didanai pihak asing berkulit coklat seperti dari Malaysia atau Singapura, tetap disebut londo ireng, Belanda hitam.

            Pada zaman Medsos ini mudah diihat dari isi narasinya. Jika mengganggu pemerintahan Indonesia dan pro-asing, Prabowo dan pengikutnya menganggap orang-orang ini londo ireng. Orang-orang ini berada dalam radar pengawasan Prabowo.

            Bagaimana kalau kita memberikan kritikan? Apakah akan disebut londo ireng?

            Tidak akan pernah!

            Jika kita mengkritik dengan data yang benar dengan niat untuk memperbaiki keadaan, tidak akan masuk dalam kategori londo ireng. Kita bahkan akan masuk menjadi mitra pemerintah dalam memperbaiki keadaan negara. Kalau niatnya menjatuhkan, itulah londo ireng dalam pandangan Prabowo.

            Supaya tidak disebut londo ireng, segera minum susu supaya lebih cerah. Kalau bangga dengan sebutan londo ireng, tetap jangan lupa minum susu.

            Ilustrasi londo ireng saya dapatkan dari Indonesia Online.

            Sampurasun.