Sunday, 28 December 2025

Bantuan Asing Itu Beda dengan Bantuan Tetangga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Bantuan asing, terkait bencana di Aceh dan Sumatera yang telah menyedot perhatian publik menjadi perbincangan hangat, bahkan panas di kalangan rakyat Indonesia. Pemerintah menutup pintu untuk bantuan asing, sedangkan rakyat menginginkan adanya bantuan dari asing itu. Terjadi pergolakan mengenai masalah ini.

Hal itu disebabkan kekurangpahaman terhadap kondisi yang terjadi dan istilah “bantuan asing”. Bencana yang terjadi dan penderitaan rakyat yang tertimpa musibah mengalami kesulitan penanganan bukan karena pemerintah atau negara tidak punya uang atau materi, melainkan karena akses yang terbatas. Jalan tertutup, jembatan putus, hutan-hutan ambruk. Artinya, kalaupun ada bantuan, sulit masuk karena aksesnya menghilang dan harus dibuat akses baru. Mau bantuan dari dalam negeri ataupun luar negeri, tetap sulit untuk masuk.


Bencana Aceh, Sumut, Sumbar (Foto: CNN Indonesia)


Di samping itu, rakyat menganggap bantuan asing itu seperti “bantuan tetangga” atau bantuan kerabat, saudara. Itu salah besar. Kalau bantuan dari dalam negeri sendiri, selalu atas dasar keikhlasan, amal ibadat, kewajiban, atau iba atas dorongan empati. Kalau bantuan asing, tidak seperti itu. Mereka membantu karena ada kepentingan dirinya dalam membantu itu, tidak ikhlas. Mereka ingin mendapatkan keuntungan dari bantuan itu. Selalu begitu. Dalam teorinya, hubungan internasional atau hubungan antarnegara dilakukan oleh negara dengan dasar untuk mendapatkan manfaat dari hubungan itu. Misalnya, negara asing membantu kita dengan harapan untuk mendapatkan proyek-proyek dari pemerintah kita dan menemukan kekayaan alam yang kita miliki untuk keuntungan mereka. Setiap hubungan antarnegara selalu dilandasi kepentingan negara masing-masing.

Itulah salah satu alasan Presiden RI Prabowo Subianto menolak bantuan asing. Di samping adanya konsesi-konsesi yang harus kita penuhi, juga akan banyak dampak ikutan yang bisa menambah masalah. Misalnya, bantuan yang diberikan asing tidak sesuai dengan kondisi masyarakat, mereka bisa membawa banyak makanan, tetapi yang dibutuhkan sesungguhnya adalah pakaian atau obat. Ini jadi pekerjaan tambahan bagi birokrat dalam negeri untuk mengaturnya. Bisa juga seperti yang terjadi saat tsunami Aceh dulu, banyak anak-anak yang dibawa ke luar negeri dan menjadi korban pedofilia.

Kalau ada pihak-pihak dalam negeri yang ngotot ingin bantuan luar negeri, saya curiga mereka itu memanfaatkan ketidakpahaman rakyat dan mendorong rakyat untuk protes dengan harapan mereka ikut dalam mengelola bantuan asing itu sehingga bisa korupsi. Bisa juga untuk memasukkan pengaruh ideologi mereka memecah belah bangsa. Demonstrasi mengharap bantuan asing di Aceh dengan mengibarkan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah jelas digerakkan dari luar negeri dengan teriakan merdeka berpisah dari NKRI. Provokatornya sendiri sudah mengakui kok di luar negeri.

Intinya, bantuan asing itu jangan disamakan dengan bantuan tetangga atau saudara. Beda jauh.

Contohnya, ketika Raja Arab Saudi Salman datang menanamkan uangnya di Indonesia, apakah karena mencintai rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam?

Tidak! Sama sekali tidak!

Dia datang ke Indonesia karena diperkirakan sekitar tiga puluh tahun ke depan sumber minyak Arab Saudi habis dan tetap harus menghidupi rakyatnya. Salah satu caranya adalah menanamkan uang di Indonesia pada berbagai fasilitas pariwisata. Dia datang itu karena cinta rakyatnya sendiri bukan cinta Indonesia. Buktinya, uang yang dia tanamkan di Cina berjumlah tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan di Indonesia.

Lalu, keuntungan apa yang kita dapatkan dengan membantu pihak asing yang bernama Palestina?

Keuntungan Indonesia membantu Palestina adalah meneguhkan politik luar negeri bebas dan aktif, memperkuat ideologi negara, mempertahankan NKRI, dan memperkuat diplomasi di percaturan politik internasional.

Keuntungan apa pula yang didapat Indonesia dengan membantu Negara Vanuatu ketika tertimpa bencana?

Indonesia berharap Vanuatu tidak lagi memusingkan Indonesia di PBB yang selalu mengganggu dengan memprovokasi Papua untuk merdeka.

Jadi, begitu ya soal bantuan asing itu, selalu tidak ikhlas dan ditujukan untuk kepentingan sendiri. Akan tetapi, hal yang saya jelaskan itu merupakan tindakan antarnegara, bukan antarindividu atau perorangan. Kalau bantuan perorangan atau swasta, itu dipersilakan, diperbolehkan. Sudah banyak yang membantu di Aceh dan Sumatera secara perorangan, baik dari Malaysia, Jerman, atau negara lainnya.  Kalau bantuan perorangan, biasanya sering ikhlas atas dasar kemanusiaan. Negara tidak ikut campur dalam bantuan perorangan. Seperti kita juga yang membantu Palestina secara perorangan, dorongannya lebih ikhlas dibandingkan bantuan yang dikerahkan oleh lembaga negara. Negara manapun.

Sekarang lebih paham kan kenapa untuk menerima bantuan asing itu harus dilakukan dengan ekstra hati-hati?

Ilustrasi bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar saya dapatkan dari CNN Indonesia.

Sampurasun.

No comments:

Post a Comment