Thursday, 29 January 2026

Politik Luas Hati Merajut Cinta

 

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Maksud judul di atas adalah sikap dan rasa berpolitik yang mau menerima perbedaan, tidak harus bermusuhan jika berbeda pandangan, dan membangun kebersamaan untuk tujuan yang sama. Banyak tokoh di Indonesia ini yang sudah melakukan hal itu, tetapi kurang diperhatikan dan tidak diteladani. Contohnya, Soekarno berdebat keras dengan Syahrir sampai urat leher tegang keluar dengan mata melotot merah, tetapi pulangnya berboncengan bareng naik sepeda ontel. Prabowo memerangi Panglima Aceh Merdeka selama 25 tahun saling bunuh, tetapi akhirnya mereka bersatu dalam partai yang sama.

            Contoh lain yang masih segar dalam ingatan kita adalah Jokowi yang telah mengalahkan Prabowo dua kali bisa saling mendekat dan saling memahami. Keduanya meluaskan hatinya untuk bersama, kemudian sepakat untuk saling mendukung karena memiliki rasa cinta yang sama. Mereka sama-sama mencintai negara dan rakyatnya dalam versi mereka. Padahal, perbedaan keduanya bisa menghancurkan persatuan Indonesia, tetapi karena ada rasa cinta yang sama, Indonesia hingga tulisan ini dibuat, tetap berada dalam keadaan kokoh dan bersatu. Ini namanya fakta.

            Ada contoh lain yang juga menarik. Provinsi Jawa Barat telah menyelesaikan masa pemilihan gubernur yang juga ketat, penuh dinamika, hingga makian kotor dan hujatan-hujatan rendah. Akan tetapi, setelah Dedi Mulyadi memenangkan pertarungan, semua kompetitor bisa saling menahan diri untuk tidak melakukan kerusakan, terutama terhadap psikologi masyarakat Jawa Barat. Bahkan, saingan Dedi Mulyadi, yaitu Gitalis Dwi Natarina yang dikenal dengan panggilan Gita KDI menyanyikan dengan merdu dan cantik lagu ciptaan Dedi Mulyadi yang dikenal pula dengan sebutan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Judul lagu KDM yang dinyanyikan Gita adalah “Rindu Purnama”. Bagi yang belum menikmati lagunya dan ingin menikmatinya, saya kasih linknya, mudah-mudahan lagu ini bisa melunakan hati-hati yang keras, https://www.youtube.com/watch?v=YdTUqfAaUrY

            Foto Gita saya dapatkan dari INewsBandungRaya dan KDM yang diciumi emak-emak dari Merdeka com.


Gitalis Dwi Natarina (Foto: INewsBandungRaya)


            Baik KDM maupun Gita dan pesaing lainnya, telah melunakkan hatinya demi merajut cinta. Mereka semua mencintai kedamaian, persatuan, dan rakyat Jawa Barat. Apabila di antara mereka mulai tampak saling bertengkar hingga berpotensi merusakkan Provinsi Jawa Barat, rakyat harus mengingatkan mereka dengan cinta juga sehingga mereka kembali pada jalan yang benar, yaitu mencintai rakyatnya.


Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi diciumi emak-emak (Foto: Merdeka.com)


Perilaku atau sikap berpolitik luas hati merajut cinta menandakan bahwa kita berbeda dengan orang barat, timur tengah, dan timur atau asia lainnya. Kita punya sikap dan rasa sendiri yang harus dipertahankan untuk kehidupan kita. Kalau orang lain dari belahan dunia lain menganggap bahwa perilaku kita itu “aneh” karena beda pandangan politik itu harus bermusuhan, itu patut kita syukuri. Kita bisa menjadi contoh dalam merajut perdamaian dunia dengan perilaku cinta tanpa harus menggurui.

Sampurasun

Sunday, 25 January 2026

Utang Banyak, Uang Lemah, Ketakutan, dan Sakit Hati Kombinasi Penyebab Perang Dunia Ketiga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kegaduhan dunia saat ini, 2026, yang bisa menyebabkan perang dunia ketiga bisa dikatakan karena kondisi Negara Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Masalah-masalah di dalam negeri AS ini mendorong Trump untuk mempengaruhi negara lainnya yang akibatnya menyebabkan kegoncangan geopolitik dan ekonomi. Masalah-masalah itu, di antaranya, utang yang banyak, lemahnya uang dollar AS, ketakutan terhadap kekuatan asing, dan sakit hati karena tidak menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

            Pertama, Negara AS itu memiliki utang yang sangat banyak. Utang nasionalnya pada Januari 2026 telah mencapai angka lebih dari US$38 triliun yang kalau dirupiahkan sekitar Rp641.820 triliun. Besar sekali.

            Jika kita bandingkan dengan utang Indonesia, berbeda jauh. Utang Indonesia itu bisa dikatakan sangat sedikit, yaitu hanya menembus Rp9.400 triliun lebih hingga akhir kuartal III tahun 2025.

            Utang AS itu berapa kali lipat utang Indonesia?

            Hitung saja sendiri.

            Tentunya, AS harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membayar semua utang-utangnya. Hal itu mendorong Trump untuk menguasai negeri-negeri lain agar mendapatkan lagi sumber daya alam seperti minyak di Venezuela; hasil Bumi di Green Land, Denmark; minyak di Iran. Upaya menguasai negara lain itu tentunya mendapatkan perlawanan dari negara yang berada dalam ancamannya.

            Kedua, uang dollar AS yang semakin lemah dalam bisnis internasional. Banyak negara yang mulai gerah dengan terlalu berkuasanya dollar AS sehingga hanya menguntungkan AS dan merugikan negaranya sendiri. Oleh sebab itu, mulai banyak negara yang tidak ingin menggunakan dollar AS. Presiden Venezuela Maduro ditangkap AS salah satunya karena akan menggunakan negaranya untuk uji coba penggunaan mata uang Cina Yuan dalam bisnis internasional. Rusia semakin memperkuat Rubel. Cina tentu saja mendorong Yuan. Dalam kelompok Brics sendiri mulai menguat untuk membuat mata uang baru di kalangan mereka. Di Indonesia sendiri mulai banyak orang yang mengalihkan uangnya menjadi logam mulia (LM) atau emas. Bahkan, generasi muda mulai menabung untuk membeli emas karena daya tahan nilai tukarnya lebih kuat dibandingkan uang.

            Ketiga, AS ketakutan terhadap menguatnya pengaruh Cina dan Rusia di dunia. Kedua negara saingan AS ini memang semakin menunjukkan kekuatannya, baik secara ekonomi maupun militer. Meskipun AS menghambat kemajuan kedua negara tersebut dengan beragam sanksi dan ancaman, Cina dan Rusia semakin kuat mempengaruhi dunia sehingga membuat AS tampak semakin lemah.

            Keempat, Presiden Trump merasa sakit hati tidak mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Dia merasa sudah melakukan banyak hal untuk perdamaian dunia, tetapi orang yang meraih Nobel Perdamaian pada 2025 adalah bukan dirinya, melainkan MarĂ­a Corina Machado, pemimpin oposisi Venezuela, atas perjuangannya dalam mempromosikan hak-hak demokrasi, transisi damai, dan melawan kediktatoran di negaranya.


Presiden AS Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Rasa sakit hatinya ini dapat terlihat dari pengakuannya sendiri. Karena tidak mengapatkan Nobel Perdamaian, Trump sudah tidak ingin lagi memikirkan perdamaian dunia. Dia akan lebih memikirkan negaranya sendiri. Perdamaian dunia bukan prioritasnya.

            Foto Presiden AS Donald Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Bisa dibayangkan bukan, negara sekuat dan sekaya AS tak lagi memikirkan perdamaian dunia?

            Dia akan lebih banyak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan negaranya.

            Bagaimana dengan sikap kita, Indonesia?

            Indonesia harus berpegang teguh pada persatuan dan politik luar negeri bebas aktif. Berteman dengan siapa saja sepanjang tidak merugikan kita.

            Sampurasun.

Friday, 23 January 2026

Perbaikan Jalan untuk Pejabat atau untuk Rakyat?

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Biasanya, kalau melewati jalan jalur sebelah situ selalu tidak nyaman karena banyak lubang, tidak rata, dan becek. Akan tetapi, suatu pagi tiba-tiba jalan itu mulus sekali, tidak tampak kerusakan. Ini ajaib. Kemarin sore masih jalan masih rusak seperti biasa, tetapi pagi itu rapi banget.

            Tiba-tiba anak bungsu saya mengirimkan foto lewat grup WA keluarga. Dia berfoto bersama Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan di sekolahnya. Saya baru paham mengapa jalan yang biasanya berlubang dan becek itu lubangnya hilang dan nyaman dipakai. Ternyata, ada pejabat setingkat menteri lewat jalan itu. Memang sekolahan anak saya menggunakan jalan itu sebagai lalu lintas harian.


Anak bungsu saya bersama Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan


            Saya berpikir positif saja, mudah-mudahan kehadiran pejabat menggunakan jalan itu menjadi pemicu pemerintah untuk memperbaikinya sehingga rakyat bisa menggunakannya dengan nyaman. Perbaikan jalan itu bukan hanya untuk menteri, melainkan untuk rakyat pengguna jalan itu.

            Kalau memang untuk rakyat, teorinya, jalan itu harus bertahan sepuluh tahun untuk kemudian dilakukan pemeliharaan dan perbaikan kembali. Akan tetapi, kalau hanya bertahan satu atau dua minggu, berarti jalan itu diperbaiki dan dipoles untuk pejabat, bukan untuk rakyat.

            Kalau ternyata setelah dua minggu, jalan jebol lagi dan kembali becek, itu sangat menyedihkan. Ternyata, pemerintah hanya mementingkan pejabat dan bukan berbuat baik untuk rakyat sebagai pemiliki sah negeri ini.

            Kita lihat nanti kondisi dan daya tahan jalan itu.

            Apakah untuk rakyat atau hanya untuk pejabat?

            Kalau mendengar celoteh para siswa dan rakyat di sana, mereka yakin bahwa dalam waktu di bawah satu bulan, jalan itu jebol lagi.

            Mudah-mudahan mereka salah.

            Sampurasun.

Tuesday, 20 January 2026

Iran Terkuat Melawan Amerika Serikat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Iran adalah negara terkuat Timur Tengah yang menentang Amerika Serikat (AS). Saya  tidak sedang membicarakan negara teman AS seperti Arab Saudi. Negara-negara yang saya maksud adalah negara Timur Tengah yang bermusuhan dengan AS.

            Dari seluruh negara itu, Iran adalah negara yang paling kuat dan paling siap melawan AS serta tidak harus kalah. Kalau soal keberanian, Irak, Suriah, atau Libya sangat berani, tetapi tidak sekuat Iran dan buktinya mereka memang dikalahkan AS. Berbeda dengan Iran yang sangat kuat meskipun dikucilkan, diembargo, dan dirusakkan ekonominya, termasuk diserang secara militer menggunakan senjata mutakhir. Iran tetap berdiri tegak dan teguh dengan deklarasinya, yaitu “Anti-Amerika Serikat dan Anti-Israel”.

            Ada beberapa penyebab yang membuat Iran menjadi negara terkuat dalam melawan AS. Akan tetapi, saya sangat tertarik pada satu hal saja, yaitu “persatuan”. Hal itu yang justru menjadi kelemahan dan ketakutan AS.

            AS memang sangat takut dengan persatuan sebuah negara. Dia tidak akan pernah berani menyerang negara yang rakyatnya bersatu.  AS selalu masuk ke dalam sebuah negara jika di negara itu sedang terjadi konflik berat antara pemerintah dengan rakyatnya. Biasanya, AS selalu berpihak pada oposisi yang melawan pemerintah, kemudian mengeruk sumber daya negara itu, lalu pergi meninggalkan negara itu dalam keadaan berantakan.

            Iran adalah negara yang sangat kuat persatuannya. Bukan berarti mereka tidak punya masalah, tetapi masalahnya selalu bisa diselesaikan oleh pemerintahnya. Soal penyelesaiannya menggunakan cara halus, lembut, tegas, kasar, atau mengerikan, itu soal lain yang bisa ditulis dalam wacana lain. Hal yang jelas, Iran tetap kukuh dalam persatuannya.

            Meskipun dicoba oleh AS dan Israel menciptakan demonstrasi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, Iran tetap tangguh dan menyelesaikan demonstrasi itu dengan menangkap para perusuh serta mengadilinya, bahkan awalnya akan menghukum mati para penjahat itu yang telah membakar mobil di jalanan, gedung-gedung, membunuh tantara, dan warga lain yang berbeda paham dengan mereka. Hanya dalam hitungan jam Iran mampu menghentikan mereka.


Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khameini (Foto: CNBC Indonesia)


            Kerusuhan yang katanya demonstrasi itu jelas diprovokasi Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Netanyahu. Kedua penguasa itu dengan sangat telanjang memprovokasi perusuh untuk merebut pemerintahan dan menggulingkan pemerintah yang sah. Perilaku mereka tersebar pada berbagai berita resmi di seluruh dunia. Tak perlu profesor untuk menganalisa hal itu. Anak baru lulus SMA pun bisa.

            Beberapa jam setelah pemerintahan Iran mengendalikan kembali negaranya, PM Israel segera menghubungi Presiden AS untuk tidak melakukan serangan ke Iran. Hal itu disebabkan Israel bakal hancur dalam sekejap oleh Iran berdasarkan pengalaman “perang 12 hari” yang membuat Israel meminta gencatan senjata karena porak poranda diserang Rudal Iran yang tidak bisa diantisipasi oleh “iron dome” Israel. Demikian pula AS yang sudah bisa menghitung biaya dan kerugian yang akan diderita jika menyerang Iran.

            Ancaman penyerangan terhadap Iran yang beberapa hari sebelumnya sangat keras dan meyakinkan oleh AS dan Israel, berubah menjad omon-omon doang. Mereka takut dengan persatuan Iran.

            Dari hal itu, kita, Indonesia, bisa belajar bahwa jika ingin negara ini hancur berantakan, teruslah berkonflik serta mintalah kepada AS, Israel, dan negara lain yang tidak ingin Negara Indonesia maju untuk mendukung huru-hara di Indonesia. Akan tetapi, jika ingin Indonesia maju sejahtera sesuai dengan Pancasila, tetaplah bersatu dan selesaikan masalah di antara kita sendiri dengan jujur, jernih, dan bertujuan untuk membangun bangsa, jauh dari sikap saling menjatuhkan.

            Ingat kata pepatah lama, “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”.

            Iya, toh?

            Kalau bercerai, tidak perlu larut dalam kesedihan, kawin lagi adalah hal yang membahagiakan asal ketemu pasangan yang tepat.

            Foto Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamaeni saya dapatkan dari CNBC Indonesia.

            Sampurasun.

Sunday, 18 January 2026

Amerika Serikat Ikut Campur Jika Suatu Negara Sedang Konflik

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Pengennya Amerika Serikat (AS) itu disebut “polisi dunia”, menertibkan dan mengamankan seluruh negara. Padahal, mereka kalah perang di Vietnam dan diusir memalukan oleh negara miskin Somalia.

Saya masih ingat foto-foto lama ketika pasukan AS pergi terusir dari Somalia “dibujuran” oleh anak-anak kecil. Dibujuran itu adalah bahasa Sunda yang kalau diilustrasikan seperti anak-anak kecil membuka celananya dan memperlihatkan pant*tnya kepada tentara AS sebagai penghinaan. Tentara AS “ditongenggan” ku barudak leutik. Amerika Serikat kalah dalam “Pertempuran Mogadishu” yang dikenal dengan “Black Hawk Down”.

Foto orang-orang yang mengusir pasukan AS di Somalia saya dapatkan dari Wikipedia.


Orang-orang Somalia mengusir tentara AS (Foto: Wikipedia)


Di Vietnam pun AS kalah telak. Tentara Vietnam itu belajar perang dari tentara Indonesia. Buku-buku perang yang digunakan mereka untuk belajar perang adalah tulisan Jenderal A.H. Nasution tentang perang gerilya. Indonesia itu tidak pernah kalah perang.

Sekarang mulai paham kan kenapa tidak ada satu negara pun yang berani menantang perang terbuka pada Indonesia?

Kembali ke soal AS yang selalu ikut campur konflik dalam negeri orang lain. Seluruh negara yang dicampuri AS itu selalu sedang terjadi konflik di dalam negaranya. Negara-negara seperti Irak, Libya, termasuk Venezuela memang sedang berada dalam konflik berat di dalam negaranya antara pemerintah melawan oposisi. AS hampir selalu membela oposisi untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Kemudian, pergi meninggalkan negara itu setelah mengambil sumber dayanya dalam keadaan kacau balau dan rusak.

Indonesia harus belajar dari hal itu, apalagi pernah mengalaminya saat lalu. AS berupaya menggulingkan pemerintah RI yang dipimpin Soekarno dengan alasan komunisme karena memang PKI adalah partai besar saat itu dan dekat dengan pemerintah. Hasilnya, setelah Soekarno jatuh, untuk sepuluh tahun pertama sejak Soekarno diganti Soeharto, Indonesia memang mengalami pembangunan, tetapi setelah 1981 terjadi banyak kerusakan yang akhirnya Soeharto dijatuhkan rakyatnya sendiri. Itu kenyataan.

Banyak sekali contohnya. Oleh sebab itu, agar negara tidak jatuh dalam kerusakan, jaga persatuan dan jangan biarkan tangan-tangan pengaruh asing masuk ke Indonesia. Perbedaan paham dan pemikiran antara pemerintah dan oposisi harus diniatkan untuk perbaikan kehidupan negara, bukan untuk menjatuhkan dan menimbulkan kerusakan, baik fisik maupun nonfisik. Jangan pecahkan negara karena perbedaan-perbedaan kecil.

Di samping itu, tentara kita harus kuat, baik fisiknya, mentalnya, maupun Alutsista-nya. Kita harus punya pasukan kuat yang tidak mudah tergoda oleh duniawi seperti yang terjadi di Venezuela yang tentaranya sangat lemah, baik fisiknya, mentalnya, maupun orientasinya. Tentara Venezuela banyak yang disuap AS sehingga presidennya sendiri dibiarkan dengan mudah ditangkap pasukan AS tanpa perlawanan berarti. Pasukan AS menangkap Presiden Maduro dengan sangat enteng seperti menjemput pemabuk yang baru pulang main judi di tukang sate.

Rakyat Indonesia harus belajar dari itu semua. Kalau tidak, kalian memang harus dihukum karena akan menghancurkan kehidupan banyak orang di negeri ini.

Sampurasun.

Saturday, 17 January 2026

Sedihnya Anak Muda Sunda Bahagia di Selokan

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Biasanya anak-anak muda, baik Sunda ataupun bukan sama saja, suka memposting aktivitasnya di cafĂ©, tempat-tempat nongkrong, tempat wisata, tempat ibadat, mall, tempat belanja, fleksing-fleksing dikit pamer keberhasilan atau kemewahan. Itu sering kita lihat pada  berbagai media sosial. Itu biasa saja, normal. Ada yang memang sedang berbahagia atau pura-pura bahagia. Akan tetapi, ada yang menarik akhir-akhir ini yang memperlihatkan banyak anak muda Sunda atau bukan Sunda, tetapi sudah tinggal di Jawa Barat tampak bahagia memposting dirinya sedang berada di selokan-selokan atau drainase yang dibangun oleh Provinsi Jawa Barat. Mereka tampak senang bahwa parit atau aliran air yang ada di lingkungan mereka bersih, bagus, kokoh, dan indah. Mereka memposting itu sambil bawa-bawa nama besar “Gubernur Konten Dedi Mulyadi”. Seolah-olah mereka berkata ini lho hasil kerja “Bapak Aing”.

            Sebetulnya, bukan hanya selokan yang mereka posting, melainkan jalan provinsi yang mulus, batas kota yang anggun, jembatan yang mewah, sungai-sungai yang tertata rapi, dan bangunan fisik lainnya yang dibangun Provinsi Jawa Barat. Bahkan, mereka bangga bisa berjalan-jalan di “Lembur Pakuan”, tempat tinggal Gubernur Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ini hal yang bikin menarik.

            Mereka tampak bergembira berada di tempat-tempat itu dan memamerkannya di akun-akun media sosial yang mereka miliki. Akan tetapi, saya justru merasa sedih karena sesungguhnya yang namanya selokan, jalan, trotoar, jembatan, bangunan-bangunan pemerintah, sungai, batas kota, atau pemandangan yang indah adalah hal yang biasa saja.


Anak-anak muda senang berfoto di tempat pembangunan yang berhasil (Foto: YouTube) 


            Mengapa mereka berbahagia dan mempostingnya di media sosial untuk hal yang biasa-biasa saja itu?

            Hal itu disebabkan mereka baru merasakan hak-hak mereka diberikan dengan baik. Mereka tidak merasakan hal itu sebelumnya. Infrastuktur, kebersihan, pemandangan, keanggunan, ketertiban, dan sebagainya itu sebenarnya sudah seharusnya merupakan hak anak-anak muda dan rakyat secara keseluruhan yang sejak lama harus diberikan.

            Pertanyaannya adalah mengapa hak-hak itu tampak mereka rasakan pada zaman Dedi Mulyadi? Mengapa sebelumnya tidak mereka rasakan?

            Kita memang tidak boleh menghina atau merendahkan pemerintah sebelum-sebelumnya karena besar atau kecilnya pemimpin sebelumnya pun telah melakukan hal-hal baik. Akan tetapi, harus diakui bahwa dalam waktu yang sangat singkat, di bawah satu tahun, Dedi sudah melakukan banyak hal massif dan positif, baik untuk fisik maupun nonfisik di Jawa Barat.

            Perilaku anak-anak muda yang memposting berbagai kegiatan pembangunan provinsi itu mudah sekali ditemukan pada berbagai media sosial. Memang belum semua target pembangunan tercapai, tetapi mereka sudah tampak senang. Kesenangan rakyat akan bertambah jika berbagai program kerja Dedi terus konsisten dilakukan sepanjang masa kepemimpinannya. Di tambah lagi, akan lebih menggembirakan jika para bupati, walikota, lurah, Kades, dan jajarannya sama-sama kontinyu untuk melakukan pembangunan-pembangunan yang menyenangkan rakyatnya. Tanpa pemerintah harus mengeluarkan biaya Humas yang banyak, anak-anak muda Sunda akan senang hati memposting kegiatan-kegiatan itu tanpa harus dibayar.

            Meskipun demikian, anak-anak muda dan rakyat keseluruhan pun tidak boleh lupa bahwa keberhasilan pembangunan itu bisa berhasil bukan hanya dengan dukungan, melainkan pula dengan kritikan-kritikan konstruktif positif dengan niat meningkatkan keadaan bukan untuk membuat gaduh dengan energi negatif kebencian yang sama sekali tidak ada gunanya.

            Ilustrasi jembatan di Pangandaran saya dapatkan dari YouTube.

            Sampurasun.

Friday, 16 January 2026

Amerika Serikat Memundurkan Kemanusiaan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Memundurkan kemanusiaan berarti membuat mundur upaya-upaya untuk membangun dan menghormati manusia agar tercipta kehidupan yang lebih baik. Contoh kecil adalah dulu orang menganggap bahwa kulit berwarna lebih rendah dibandingkan kulit putih, tetapi sekarang anggapan itu sudah dijadikan kesalahan yang artinya kulit putih dan kulit berwarna tidak ada perbedaan sama sekali. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Derajat kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh warna kulit, tetapi oleh upaya dan manfaat yang diciptakannya dalam kehidupan.

            Kini Amerika Serikat (AS) tampak sekali membuat mundur nilai-nilai kemanusiaan, bukan soal warna kulit, melainkan tentang bertahan hidup. Soal warna kulit, mereka selalu berupaya keras setiap hari menghilangkan perbedaan itu dan itu bagus. Akan tetapi, soal “mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup”, AS membuat rusak upaya-upaya manusia yang sedang membangun kehidupan lebih baik.

            Sejak berabad-abad lalu, manusia mencoba memahami kehidupan manusia. Mereka yang memikirkan kehidupan itu biasa disebut para ilmuwan. Orang-orang cerdas ini selalu bertanya-tanya tentang aktivitas manusia dan mencari jawaban untuk menyelesaikan masalahnya. Dari hasil penelitian mereka, timbul kajian-kajian atau teori-teori tentang hubungan manusia yang digunakan untuk memahami masalah manusia. Dari pemahaman-pemahaman itu, manusia mendapatkan pengertian untuk tidak terjerumus ke dalam berbagai keburukan. Hasil penelitan para ilmuwan itu ada yang disebut “merkantilisme” yang kemudian dikoreksi oleh “realisme”, dikoreksi lagi oleh “liberalisme”, dan ke depannya mungkin ada penelitian lain yang mengoreksi pemahaman-pemahaman tersebut agar kehidupan manusia semakin baik dan tertata.


Sejak purba manusia berebut, berperang untuk hidup (Foto: KBRIS PDR Website Gambar)


            Untuk memahami “isme-isme” tadi, diperlukan satu atau dua semester perkuliahan, bahkan lebih. Akan tetapi, saya coba persempit saja dalam beberapa kalimat. Secara sederhana, pemahaman realisme menjelaskan bahwa manusia itu “selalu berupaya menguasai manusia lainnya dengan cara menaklukannya”. Hal ini bisa dilihat dari sejarah masa lalu yang dipenuhi oleh perang-perang, penaklukan, penguasaan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan kesadisan lainnya. Berbagai “game online” maupun “offline” yang bertemakan perang banyak yang terinspirasi dari perang-perang masa lalu itu. Hal ini berarti bahwa manusia untuk mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup itu harus menyerang, mengalahkan, atau menaklukan manusia lainnya. Suatu negara jika ingin hidup, harus mengalahkan negara lainnya.

            Pemahaman ini mendapatkan koreksi atau tantangan dari pemahaman baru, yaitu “liberalisme”. Dalam kajian liberalisme, agar manusia bisa mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup adalah bukan dengan menaklukan negara lain, melainkan dengan menghormati bangsa atau negara lain dengan cara melakukan “kerja sama” yang disepakati. Manusia bisa mendapatkan kebutuhan yang dimiliki negara lain dengan cara bekerja sama yang saling menguntungkan. Dengan demikian, manusia bisa terhindar dari saling membunuh untuk bertahan hidup.

            Manusia sekarang sedang lebih menyukai liberalisme yang memberikan banyak kebebasan dan kecenderungan untuk bekerja sama. Manusia bisa saling mengenal, berinteraksi lebih positif, dan mendapatkan keuntungan bersama sesuai dengan kesepakatan. Akan tetapi, tiba-tiba AS yang dipimpin Presiden Donald Trump membuat rusak hubungan manusia yang sedang terus belajar untuk saling menghormati dengan melakukan banyak permusuhan dan penaklukan. Dunia dikejutkan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ancaman militer untuk menguasai Greenland dan merebutnya dari Denmark, bernafsu untuk merebut Bolivia, Kolombia, Meksiko, serta menggertak Iran. Itu semua memundurkan upaya-upaya terhormat manusia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. AS mengembalikan situasi ke masa lalu agar manusia saling membunuh untuk mendapatkan sumber daya alam. Itu yang terjadi.

            Sekarang manusia tinggal memilih, apakah akan mengembalikan situasi ke masa lalu yang dipenuhi kedustaan, kematian, dan kerusakan atau bertahan untuk melangkah maju agar manusia bisa lebih hidup bermartabat?

            Terserah kita sendiri sebenarnya.

            Ilustrasi manusia purba Eropa saya dapatkan dari KIBRIS PDR Website Gambar.

            Saya sebenarnya menginginkan ada pemahaman baru untuk membuat kehidupan manusia lebih baik, yaitu menggunakan “Islamisme” atau “Pancasilaisme”. Sayangnya, sampai hari ini belum ada yang menulisnya dan menyebarkannya di panggung dunia untuk memberikan sumbangan pemikiran agar hidup manusia lebih baik lagi. Mudah-mudahan pada masa depan ada anak-anak muda yang cerdas dan menuliskan penelitian-penelitian baru untuk kemaslahatan seluruh manusia. Itu namanya “rahmatan lil alamin”.

            Sampurasun.

Saturday, 10 January 2026

Amerika Serikat Selalu Bikin Negara yang Dicampurinya Rusak

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita harus membiasakan diri mengatakan Amerika Serikat (AS), bukan Amerika karena Amerika Serikat (AS) adalah sebuah negara, sedangkan Amerika adalah suatu benua, kawasan, atau region yang di dalamnya termasuk juga Amerika Latin. Sudah berulang-ulang AS mencampuri hidup negara lain, bahkan melakukan penyerangan dan menaklukannya dengan alasan melindungi hak asasi manusia, menegakkan demokrasi, dan membela rakyat negara yang dicampurinya. Akan tetapi, setiap negara yang dicampurinya selalu rusak, berantakan. Alasan Ham dan demokrasi sama sekali tidak terwujud, hanya kekalutan yang terjadi. Jika negara itu tidak cerdas, negara itu akan terus rusak dan kelimpungan hingga hari ini.

            Kita ambil contoh Irak yang dulu dipimpin Saddam Husein diserang AS dengan alasan demokrasi dan melindungi rakyat Irak dari kekejaman Saddam Husein. Irak berhasil dikalahkan AS dan Saddam Husein dihukum mati setelah sebelumnya patungnya digulingkan.

Akan tetapi, terciptakah kemakmuran, ketertiban, dan  kehidupan rakyat yang lebih baik?

Tidak, sama sekali tidak!

Bahkan, seorang tukang service motor yang menggulingkan patung Sadam Husein merasa menyesal dan ingin kembali menegakkan patung itu. Sayangnya, itu tidak mungkin dilakukan. Dia merasakan penderitaan luar biasa setelah dikuasai AS. Irak yang dikenal dengan negeri dongeng “1001 malam” itu berantakan.


Penggulingan patung Saddam Husein di Irak (Foto: ABC News)


Contoh lain adalah Libya yang ditaklukan AS Bersama Nato dengan alasan demokrasi dan hak asasi manusia yang dikabarkan menderita di bawah kepemimpinan Moamar Khadafi. Libya yang sangat makmur itu harus runtuh di tangan AS. Padahal, dulunya, hidup rakyatnya tercukupi. Bahkan, ada pengakuan dari mahasiswa asal Indonesia yang mengagumkan. Ketika itu mobilnya rusak dan hendak diperbaiki, tetapi tidak jadi diperbaiki karena pemerintah Libya Khadafi menggantinya dengan mobil baru.

Sekarang bagaimana nasib Libya?

Berantakan!

Demikian juga dengan negara-negara lainnya, seperti, Iran, Chile, Kongo, Guatemala, Afghanistan, Suriah, dan Mesir, berantakan dan jika pemimpinnya tidak cerdas, akan tetap berantakan. Kalaupun punya pemimpin cerdas, mereka harus bersusah payah berdiri dan membangun. Adapun AS pergi begitu saja setelah mendapatkan keuntungan dari negeri-negeri itu.

Ketika AS datang ke negeri-negeri itu awalnya rakyatnya bersuka cita karena dianggap akan menyelamatkan mereka dari pemerintahnya sendiri. Akan tetapi, kehidupan rakyat justru semakin menderita dan tidak jelas mau ke mana.

Indonesia pun pernah mengalami hal serupa. Kejatuhan Presiden RI ke-1 Soekarno adalah operasi dari CIA AS. Akibatnya, rakyat harus hidup di bawah kendali Presiden Soeharto dalam pengekangan serta kungkungan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Rakyat muak dengan Soeharto yang kemudian dijatuhkan sehingga membuka lembaran awal reformasi.

Soeharto memang tampak ditekan AS. Ketika Timor Timur berada dalam anarkisme karena ditinggal Portugis, AS membujuk Soeharto agar mengurus Timor Timur. Jadilah Timor Timur salah satu provinsi di Indonesia. Soeharto mengurusnya dengan dana yang sangat besar. Akan tetapi, AS pula yang bikin keributan dengan tuntutan memisahkan diri dari Indonesia. Akibatnya, Soeharto disalahkan atas keadaan Timor Timur. Akhirnya, Timor Timur berpisah dari Indonesia dan berubah menjadi Timor Leste serta dilndungi Australia.

Belakangan diketahui upaya pemisahan diri itu karena soal minyak yang kemudian dikuasai Australia.

Sekarang bagaimana nasib Timor Leste?

Sudah menjadi negara yang makmur dan bahagia?

Tidak, sama sekali tidak!

Negara itu sekarang hanya menjadi negara termiskin di dunia setelah Negara Burundi. Minyak yang ada di sana tidak membuat rakyatnya makmur dan sebentar lagi habis dikeruk Australia. Negara itu hanya menunggu masa bangkrutnya karena jika minyaknya habis, Australia akan meninggalkannya dan tak lagi memberikan bagian dari perusahaan minyaknya yang hanya sedikit itu.

Sekarang Venezuela yang presidennya ditangkap AS dengan alasan Narkoba, ekonomi, dan Ham akan bernasib sama karena seperti negara-negara lainnya juga yang dicampuri AS hanya diambil minyaknya atau sumber daya alamnya, sedangkan rakyatnya dicuekin. Kalaupun diberi, bagiannya hanya kecil saja.

Bagi kita, rakyat Indonesia, harus berhati-hati bersikap dan bekerja sama dengan negara yang mana saja karena mereka bukan kita dan selalu menginginkan keuntungan dari kita. Berhubungan boleh saja, tetapi kita harus cerdas dalam berinteraksi agar kita yang lebih untung, bukan negara lain. Tetap dalam politik luar negeri yang bebas dan aktif, berteman dengan siapa saja, tetapi waspada agar tidak dikendalikan siapa pun.

Ilustrasi Patung Saddam Husein yang digulingkan di Irak saya dapatkan dari ABC News.

Sampurasun.

Monday, 5 January 2026

Perbedaan Arab Saudi dan Amerika Serikat

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Saya menulis hal yang pada pokoknya saja bahwa banyak pengamat energi di dunia ini memperkirakan bahwa bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil dan digunakan oleh mayoritas manusia untuk kendaraan bermesin akan habis tiga puluh tahun ke depan. Oleh sebab itu, negara-negara penghasil minyak berupaya keras untuk tetap mendapatkan penghasilan besar bagi hidup rakyatnya tanpa harus menggantungkan diri pada minyak di negaranya.

            Raja Arab Saudi Salman berusaha mengatasi masa-masa sulit nanti ketika minyak fosil habis dengan cara berkeliling ke seluruh dunia untuk menanamkan uangnya pada berbagai fasilitas industri pada berbagai negara. Indonesia adalah salah satu negara yang didatanginya. Dia menyebarkan dan menanamkan uangnya agar rakyat Arab Saudi tetap bisa hidup meskipun nanti minyak habis di negaranya. Artinya, hidup rakyatnya akan banyak ditopang oleh industri-industri yang dibangun pada berbagai negara, termasuk di Indonesia.


Raja Arab Saudi Salman (Foto: BBC)


            Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga berupaya keras agar rakyatnya bisa tetap hidup dan industrinya tetap berjalan. Salah satu usahanya adalah dengan melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Negara Venezuela adalah pemilik cadangan minyak yang terbesar di dunia. Minyak di Venezuela jumlahnya sama dengan cadangan minyak tiga negara jika digabungkan, yaitu Arab Saudi, Iran, dan Kanada. Dengan demikian, Amerika Serikat (AS) memiliki lebih banyak lagi minyak untuk negaranya dan berbagai industri AS tetap bisa berjalan tenang dengan lebih lama lagi.

            Hal ini jelas terucap dari mulut Trump sendiri bahwa setelah menangkap Maduro, AS akan mengelola minyak Venezuela. Dia segera berbicara tentang minyak dan bukan soal hak asasi manusia, kesehatan rakyat, ataupun stabilitas politik Venezuela seperti yang sering dipidatokannya. Dia langsung bicara soal bisnis minyak.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: BBC)


            Meskipun dia membantah bahwa menangkap Maduro adalah untuk menguasai minyak karena minyak di AS sudah cukup, fakta menunjukkan bahwa yang dia ucapkan pertama kali adalah soal penguasaan minyak. Itu sudah menjelaskan bahwa dia menginginkan minyak untuk dirinya dan negaranya.

            Dari sini, kita bisa melihat adanya perbedaan sikap antara Arab Saudi dengan Amerika Serikat soal minyak. Arab Saudi mengatasi kelangkaan minya pada masa depan dengan membangun bisnis nonminyak pada berbagai negara agar rakyatnya tetap bisa hidup. Adapun AS melakukan penyerangan terhadap Venezuela dan menangkap presidennya agar dia bisa lebih banyak lagi menguasai ladang-ladang minyak untuk diri dan negaranya.

            Baik Arab Saudi maupun AS sama-sama melakukan kewajiban untuk hidup rakyatnya masing-masing. Perbedaannya adalah pada caranya dan pada nilai-nilai moralitas manusia.

            Mana yang lebih bermoral?

            Arab Saudi atau Amerika Serikat?

            Pembaca bisa menilainya sendiri dengan menggunakan nurani sebagai manusia. Mari kita menilai sesuai dengan informasi lebih luas dan kejujuran hati. Untuk mampu menilai dan merasakan sesuatu dengan lebih jernih, pikiran dan perasaan kita harus berada dalam posisi positif. Oleh sebab itu, berhenti bergaul dan bergabung dalam kelompok-kelompok yang dipenuhi suasana negatif.

            Foto Raja Salman dan Presiden Trump saya dapatkan dari BBC.

            Sampurasun.