oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Maksud judul di atas adalah sikap
dan rasa berpolitik yang mau menerima perbedaan, tidak harus bermusuhan jika
berbeda pandangan, dan membangun kebersamaan untuk tujuan yang sama. Banyak tokoh
di Indonesia ini yang sudah melakukan hal itu, tetapi kurang diperhatikan dan
tidak diteladani. Contohnya, Soekarno berdebat keras dengan Syahrir sampai urat
leher tegang keluar dengan mata melotot merah, tetapi pulangnya berboncengan
bareng naik sepeda ontel. Prabowo memerangi Panglima Aceh Merdeka selama 25
tahun saling bunuh, tetapi akhirnya mereka bersatu dalam partai yang sama.
Contoh lain yang masih segar dalam ingatan kita adalah
Jokowi yang telah mengalahkan Prabowo dua kali bisa saling mendekat dan saling
memahami. Keduanya meluaskan hatinya untuk bersama, kemudian sepakat untuk
saling mendukung karena memiliki rasa cinta yang sama. Mereka sama-sama
mencintai negara dan rakyatnya dalam versi mereka. Padahal, perbedaan keduanya
bisa menghancurkan persatuan Indonesia, tetapi karena ada rasa cinta yang sama,
Indonesia hingga tulisan ini dibuat, tetap berada dalam keadaan kokoh dan
bersatu. Ini namanya fakta.
Ada contoh lain yang juga menarik. Provinsi Jawa Barat
telah menyelesaikan masa pemilihan gubernur yang juga ketat, penuh dinamika,
hingga makian kotor dan hujatan-hujatan rendah. Akan tetapi, setelah Dedi
Mulyadi memenangkan pertarungan, semua kompetitor bisa saling menahan diri
untuk tidak melakukan kerusakan, terutama terhadap psikologi masyarakat Jawa
Barat. Bahkan, saingan Dedi Mulyadi, yaitu Gitalis Dwi Natarina yang dikenal
dengan panggilan Gita KDI menyanyikan dengan merdu dan cantik lagu ciptaan Dedi
Mulyadi yang dikenal pula dengan sebutan Kang Dedi Mulyadi (KDM). Judul lagu
KDM yang dinyanyikan Gita adalah “Rindu
Purnama”. Bagi yang belum menikmati lagunya dan ingin menikmatinya, saya kasih
linknya, mudah-mudahan lagu ini bisa melunakan hati-hati yang keras, https://www.youtube.com/watch?v=YdTUqfAaUrY
Foto Gita saya dapatkan dari INewsBandungRaya dan KDM
yang diciumi emak-emak dari Merdeka com.
![]() |
| Gitalis Dwi Natarina (Foto: INewsBandungRaya) |
Baik KDM maupun Gita dan pesaing lainnya, telah
melunakkan hatinya demi merajut cinta. Mereka semua mencintai kedamaian,
persatuan, dan rakyat Jawa Barat. Apabila di antara mereka mulai tampak saling
bertengkar hingga berpotensi merusakkan Provinsi Jawa Barat, rakyat harus
mengingatkan mereka dengan cinta juga sehingga mereka kembali pada jalan yang
benar, yaitu mencintai rakyatnya.
![]() |
| Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi diciumi emak-emak (Foto: Merdeka.com) |
Perilaku
atau sikap berpolitik luas hati merajut cinta menandakan bahwa kita berbeda
dengan orang barat, timur tengah, dan timur atau asia lainnya. Kita punya sikap
dan rasa sendiri yang harus dipertahankan untuk kehidupan kita. Kalau orang
lain dari belahan dunia lain menganggap bahwa perilaku kita itu “aneh” karena beda
pandangan politik itu harus bermusuhan, itu patut kita syukuri. Kita bisa menjadi
contoh dalam merajut perdamaian dunia dengan perilaku cinta tanpa harus
menggurui.









