oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Bantuan asing, terkait bencana
di Aceh dan Sumatera yang telah menyedot perhatian publik menjadi perbincangan
hangat, bahkan panas di kalangan rakyat Indonesia. Pemerintah menutup pintu
untuk bantuan asing, sedangkan rakyat menginginkan adanya bantuan dari asing
itu. Terjadi pergolakan mengenai masalah ini.
Hal itu
disebabkan kekurangpahaman terhadap kondisi yang terjadi dan istilah “bantuan
asing”. Bencana yang terjadi dan penderitaan rakyat yang tertimpa musibah
mengalami kesulitan penanganan bukan karena pemerintah atau negara tidak punya
uang atau materi, melainkan karena akses yang terbatas. Jalan tertutup,
jembatan putus, hutan-hutan ambruk. Artinya, kalaupun ada bantuan, sulit masuk
karena aksesnya menghilang dan harus dibuat akses baru. Mau bantuan dari dalam
negeri ataupun luar negeri, tetap sulit untuk masuk.
![]() |
| Bencana Aceh, Sumut, Sumbar (Foto: CNN Indonesia) |
Di
samping itu, rakyat menganggap bantuan asing itu seperti “bantuan tetangga” atau
bantuan kerabat, saudara. Itu salah besar. Kalau bantuan dari dalam negeri
sendiri, selalu atas dasar keikhlasan, amal ibadat, kewajiban, atau iba atas
dorongan empati. Kalau bantuan asing, tidak seperti itu. Mereka membantu karena
ada kepentingan dirinya dalam membantu itu, tidak ikhlas. Mereka ingin
mendapatkan keuntungan dari bantuan itu. Selalu begitu. Dalam teorinya,
hubungan internasional atau hubungan antarnegara dilakukan oleh negara dengan
dasar untuk mendapatkan manfaat dari hubungan itu. Misalnya, negara asing
membantu kita dengan harapan untuk mendapatkan proyek-proyek dari pemerintah
kita dan menemukan kekayaan alam yang kita miliki untuk keuntungan mereka.
Setiap hubungan antarnegara selalu dilandasi kepentingan negara masing-masing.
Itulah
salah satu alasan Presiden RI Prabowo Subianto menolak bantuan asing. Di
samping adanya konsesi-konsesi yang harus kita penuhi, juga akan banyak dampak
ikutan yang bisa menambah masalah. Misalnya, bantuan yang diberikan asing tidak
sesuai dengan kondisi masyarakat, mereka bisa membawa banyak makanan, tetapi
yang dibutuhkan sesungguhnya adalah pakaian atau obat. Ini jadi pekerjaan tambahan
bagi birokrat dalam negeri untuk mengaturnya. Bisa juga seperti yang terjadi
saat tsunami Aceh dulu, banyak anak-anak yang dibawa ke luar negeri dan menjadi
korban pedofilia.
Kalau
ada pihak-pihak dalam negeri yang ngotot ingin bantuan luar negeri, saya curiga
mereka itu memanfaatkan ketidakpahaman rakyat dan mendorong rakyat untuk protes
dengan harapan mereka ikut dalam mengelola bantuan asing itu sehingga bisa
korupsi. Bisa juga untuk memasukkan pengaruh ideologi mereka memecah belah
bangsa. Demonstrasi mengharap bantuan asing di Aceh dengan mengibarkan bendera
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah jelas digerakkan dari luar negeri dengan
teriakan merdeka berpisah dari NKRI. Provokatornya sendiri sudah mengakui kok di
luar negeri.
Intinya,
bantuan asing itu jangan disamakan dengan bantuan tetangga atau saudara. Beda
jauh.
Contohnya,
ketika Raja Arab Saudi Salman datang menanamkan uangnya di Indonesia, apakah karena
mencintai rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam?
Tidak!
Sama sekali tidak!
Dia datang
ke Indonesia karena diperkirakan sekitar tiga puluh tahun ke depan sumber minyak
Arab Saudi habis dan tetap harus menghidupi rakyatnya. Salah satu caranya
adalah menanamkan uang di Indonesia pada berbagai fasilitas pariwisata. Dia
datang itu karena cinta rakyatnya sendiri bukan cinta Indonesia. Buktinya, uang
yang dia tanamkan di Cina berjumlah tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan
dengan di Indonesia.
Lalu,
keuntungan apa yang kita dapatkan dengan membantu pihak asing yang bernama
Palestina?
Keuntungan
Indonesia membantu Palestina adalah meneguhkan politik luar negeri bebas dan
aktif, memperkuat ideologi negara, mempertahankan NKRI, dan memperkuat
diplomasi di percaturan politik internasional.
Keuntungan
apa pula yang didapat Indonesia dengan membantu Negara Vanuatu ketika tertimpa
bencana?
Indonesia
berharap Vanuatu tidak lagi memusingkan Indonesia di PBB yang selalu mengganggu
dengan memprovokasi Papua untuk merdeka.
Jadi,
begitu ya soal bantuan asing itu, selalu tidak ikhlas dan ditujukan untuk
kepentingan sendiri. Akan tetapi, hal yang saya jelaskan itu merupakan tindakan
antarnegara, bukan antarindividu atau perorangan. Kalau bantuan perorangan atau
swasta, itu dipersilakan, diperbolehkan. Sudah banyak yang membantu di Aceh dan
Sumatera secara perorangan, baik dari Malaysia, Jerman, atau negara lainnya. Kalau bantuan perorangan, biasanya sering
ikhlas atas dasar kemanusiaan. Negara tidak ikut campur dalam bantuan perorangan.
Seperti kita juga yang membantu Palestina secara perorangan, dorongannya lebih
ikhlas dibandingkan bantuan yang dikerahkan oleh lembaga negara. Negara manapun.
Sekarang
lebih paham kan kenapa untuk menerima bantuan asing itu harus dilakukan dengan
ekstra hati-hati?
Ilustrasi
bencana Aceh, Sumut, dan Sumbar saya dapatkan dari CNN Indonesia.










