oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Teroris memang jelas salah.
Kita jelas harus menyalahkannya, tetapi jangan sampai keterlaluan menyalahkan yang
justru membuat kita salah langkah dalam mengantisipasinya.
Setelah kejadian teror di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta
Pusat, pada 14 Januari 2016, pemerintah dan orang-orang kesal sehingga merasa
harus meningkatkan antisipasi, pencegahan, dan penanganannya. Berbagai
peningkatan itu memang sangat diperlukan, tetapi dari seluruh pendapat atau
komentar yang menjadi dasar perlunya peningkatan penanganan yang ditandai
dengan keinginan untuk melakukan revisi UU antiterorisme, hanya berada pada
seputar penyimpangan ideologi para teroris, penyebaran paham-paham radikal,
serta sempitnya pemahaman terhadap ajaran Islam. Seluruhnya mengarah pada
kesalahan para teroris itu yang sebetulnya saudara kita sebangsa setanah air
Indonesia. Mereka sesungguhnya hanya perlu mendapatkan pemahaman dan pendidikan
yang lebih luas mengenai ajaran Islam serta keadilan dalam menjalani hidupnya.
Saya sangat kurang menyukai jika keseluruhan kesalahan ditimpakan
kepada para teroris Indonesia itu. Hal itu disebabkan ada faktor eksternal yang
memicu mereka menjadi teroris. Minimal ada dua faktor eksternal tersebut, yaitu
dana operasional teror dan ketidakhadiran negara dalam menjaga dan melindungi
harga diri umat Islam yang sesungguhnya mayoritas di Indonesia.
Dana
Teror
Teroris ada di Indonesia karena memang ada yang
membuatnya dan ada yang mendanainya. Berbagai lembaga di Indonesia mengatakan
bahwa mereka yang menjadi teroris adalah rata-rata relatif orang-orang pinggiran dengan ekonomi
yang rendah serta berpendidikan rendah dan atau pemahaman agama yang juga
minim. Akan tetapi, mereka ternyata memiliki cukup banyak uang untuk membeli
senjata, tiket pesawat terbang, bahan-bahan peledak, pulsa buat internet, dan
lain sebagainya.
Dari mana mereka mendapatkan uang yang sangat banyak?
Kalaulah memang benar Isis yang melakukannya, berarti mereka mendapatkan dana dari Isis.
Dari mana Isis mendapatkan uang?
Para netizen di luar negeri telunjuknya sudah mengarah
pada Amerika Serikat. Presiden Rusia Vladimir Putin mengarahkan telunjuknya ke
Turki dan Nato. Nato itu organisasi yang diikuti banyak negara.
Indonesia telunjuknya mengarah ke siapa?
Belum mengarah ke siapa-siapa kan?
Kenapa?
Takut?
Apa yang ditakutkan?
Dari Indonesia, hanya Salim Said, pengamat militer dan
dunia, serta Mahfud Siddiq, anggota Komisi I DPR yang mampu lebih tegas
mengarahkan dugaannya. Salim Said menduga keras ada dukungan dana dari Amerika
Serikat dan Arab Saudi. Mahfud Siddiq mengarahkan telunjuknya ke arah kesalahan
yang dilakukan pihak intelijen Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.
Pemerintah Indonesia belum mengarahkan telunjuknya ke
siapa-siapa. Padahal, ini sangat penting. Dengan mengetahui dari mana dana Isis
berasal, Indonesia bisa lebih aktif mencegah dana itu mengalir ke Indonesia dan
menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia tidak takut kepada siapa-siapa. Dengan
mampu mencegah dana-dana berdarah itu mengalir ke Indonesia, ruang gerak para
teroris akan lebih sempit dan membuat para teroris kembali pada jalan yang
benar.
Artinya, pihak-pihak yang mendanai terorisme entah itu
negara, swasta, ataupun perorangan harus pula menjadi pihak yang teramat sangat
disalahkan. Jangan melulu menyalahkan saudara-saudara kita sebangsa setanah air
yang kebetulan terpengaruh oleh dana dan bujuk rayu para penyandang dana.
Meskipun demikian, kita patut mengapresiasi pada PPATK
bahwa telah ditemukan aliran dana mencurigakan dari Australia untuk para
teroris. Kita hanya tinggal perlu tahu siapa pihak yang menyalurkan dana itu
dari Australia.
Kekuranghadiran
Pemerintah
Di samping itu, selain faktor eksternal adanya dana untuk
membiayai terorisme, juga kekuranghadiran pemerintah dalam menjaga dan
melindungi harga diri umat Islam dan agama Islam di Indonesia. Misalnya, ketika
ada rumah ibadat nonmuslim yang dibakar umat Islam, pemerintah dan pendapat
publik langsung menyalahkan umat Islam yang mayoritas dengan tuduhan
intoleransi. Padahal, bisa sangat mungkin umat Islam marah karena rumah ibadat
itu dibangun tanpa mengikuti peraturan yang berlaku dan atau perjanjian yang telah
disepakati. Umat Islam marah karena pemerintah kurang tanggap dalam mengatasi
hal tersebut.
Kekuranghadiran pemerintah dalam melindungi umat Islam
tersebut, bisa memicu pendapat bahwa memang pemerintah dan aparat Indonesia
adalah thoghut. Kemudian, orang-orang
yang marah mendapatkan “pencerahan” dari para teroris. Artinya, mereka menjadi
teroris karena kesal dengan situasi dan tidak mendapatkan keyakinan bahwa
mereka dibela oleh pemerintah dan aparat Indonesia, malahan disalahkan sebagai
intoleransi.
Hal yang paling membuat saya sangat prihatin adalah
sangat banyaknya tayangan di youtube yang isinya merupakan penghinaan kepada
Allah swt, Muhammad saw, Islam, dan kaum muslimin. Video-video itu dibuat oleh
orang Indonesia dan bertebaran dengan bebasnya. Padahal, kita memiliki
undang-undang yang bisa menjerat mereka, misalnya, penghinaan atas suku, agama,
dan ras. Akan tetapi, video-video semacam itu semakin semarak.
Saya suka mengingatkan pada para pembuat video itu untuk
tidak melakukan penghinaan-penghinaan itu karena sebagai bangsa Indonesia yang
ber-Pancasila harus selalu menjaga kerukunan dan perdamaian. Akan tetapi,
mereka tidak menggubrisnya, malahan “menantang” saya berdebat. Saya malas
sebenarnya berdebat dengan orang Indonesia, tetapi saya layani juga. Hasilnya,
selalu sama, saya tidak pernah kalah.
Ada yang mau berdebat dengan saya sekarang?
Ada yang ingin saya permalukan?
Saya benar-benar bisa membuat malu kalian semua!
Ada yang yakin bisa menang berdebat dengan saya?
Saya tunggu!
Saya malas berdebat dengan orang Indonesia karena di
samping memang kita tidak perlu berdebat serta harus selalu menjaga perasaan
orang lain dan saling menghormati, juga karena anti-Islam di Indonesia itu
kebanyakan nyontek dari orang-orang
luar negeri, baik isi videonya, maupun kalimat-kalimat yang mereka gunakan
ketika berdebat dengan saya. Kebanyakan mereka nyontek dari video dan kata-kata orang-orang ateis. Sementara itu, banyak orang ateis luar negeri dari berbagai negara sudah saya kalahkan.
Jadi,
buat apa saya berdebat dengan orang-orang Indonesia yang nyontek dari orang-orang luar negeri yang sudah saya kalahkan?
Kita bisa lihat bagaimana saling ejek antara orang Islam
dengan orang non-Islam dalam video-video yang isinya menghina Islam di
Indonesia ini. Kalimat-kalimat yang mereka gunakan sangat tidak beradab dan
jauh dari Pancasila. Anak-anak muda Islam yang nggak sabaran mengeluarkan
kata-kata kasar mengomentari video penghinaan itu. Lalu dibalas lagi sama
kasarnya oleh orang-orang non-Islam.
Video-video penghinaan itu tentu saja sangat mengganggu
dan menyinggung perasaan. Akan tetapi, video-video itu tetap ada gentayangan di
dunia maya. Isi dari video-video yang sangat menyinggung itu bisa menjadi
pemicu kemarahan dari anak-anak muda Islam yang kemudian merasa harus
“melakukan sesuatu” untuk menghentikan penghinaan itu. Harus diingat bahwa
penghinaan kepada Allah swt dan Nabi Muhammad saw itu hukumannya adalah “mati”.
Anak-anak muda yang marah itu harus menyalurkan
kemarahannya. Dalam kondisi seperti itu sangat mungkin mereka menganggap bahwa pemerintah
Indonesia membiarkan penghinaan itu terjadi karena memang terus terjadi. Saat
itulah sangat rentan mereka menganggap bahwa pemerintah Indonesia adalah thoghut. Kemudian, mereka bertemu dengan
para penganjur “teror”. Jadilah, mereka teroris.
Artinya, mereka menjadi teroris disebabkan ketidakhadiran
negara dalam melindungi dan menjaga harga diri umat Islam. Padahal, sudah ada
undang-undangnya untuk mencegah dan memberantas penghinaan-penghinaan seperti
itu. Negara seharusnya mengambil alih kemarahan anak-anak muda itu dengan
menghukum para penghina dan atau pembuat video yang berisi tentang penghinaan
terhadap agama.
Kalaupun tidak menjadi teroris terorganisasi, mereka bisa
menjadi “pembunuh mandiri”. Mereka akan mencari cara sendiri dan bertanggung jawab
sendiri dengan membunuh para penghina Islam. Ini pernah terjadi di London,
Inggris. Saya tahu kisahnya dari orang-orang ateis Inggris yang berdebat dengan
saya. Mereka mengatakan bahwa orang Islam itu jahat karena telah melakukan
pembunuhan terhadap orang yang telah menghina Islam di internet.
Saya
menjawabnya enteng saja, “Don’t do
something stupid if yo do not want to wretch.”
‘Jangan
melakukan sesuatu yang bodoh jika kamu tidak ingin celaka’.
Artinya,
jangan menghina orang Islam jika kamu tidak mau dibunuh oleh orang Islam.
Pembunuhan
terhadap penghina Islam di internet itu membuat orang-orang Inggris ketakutan
dan untuk sementara waktu, menghentikan penghinaan mereka terhadap Islam.
Mereka lebih berhati-hati berbicara. Memang cukup efektif ternyata pembunuhan
terhadap penghina Islam itu. Saya memperhatikan para penghina Islam itu saling
mengingatkan untuk lebih berhati-hati karena bisa dibunuh serta banyak pula
dari penghina Islam itu yang justru kemudian masuk Islam. Bahkan, anak pembuat
salah satu film yang menghina Islam di Inggris masuk Islam juga.
Akan
tetapi, ada lagi yang membangkitkan semangat para penghina Islam Inggris itu.
Mereka membuat video dengan judul Society
of Cowards, ‘Masyarakat Pengecut’. Orator dalam video itu bernama Pat Codell. Ia menghina warga Inggris
yang ketakutan akibat pembunuhan yang dilakukan muslim Inggris di Inggris. Saya
pernah berdebat dengan dia dan saya kalahkan dia. Bahkan, orang-orang nonmuslim
Amerika Serikat ikut juga mengejek dia.
Sampai
hari ini alhamdulillah di Indonesia
tidak terjadi pembunuhan seperti itu.
Akan
tetapi, siapa yang bisa menjamin bahwa hal itu tidak akan terjadi di Indonesia?
Ataukah
pemerintah menunggu dulu ada yang mati digorok di tempat tidurnya karena telah
menghina Islam, baru video-video penghinaan itu ditertibkan?
Saya
sangat prihatin ada petinggi Polri yang mengatakan bahwa polisi tidak selalu
mau untuk mengurus hal-hal seperti itu. Padahal, hal-hal yang tidak mau mereka
urus itu bisa memicu pemahaman yang salah terhadap Negara Indonesia.
Polisi
sebenarnya tidak perlu menunggu laporan dari yang merasa tersinggung untuk
masalah Sara ini. Begitu ada yang melakukan penghinaan, tangkap saja langsung.
Kalau belum ada undang-undangnya, ya segera bikin dulu. Jadi, di samping
situasi lebih aman dan tertib, juga salah satu penyebab seseorang menjadi
teroris telah hilang.
Para
penghina itu sama sekali bukan ingin mendapatkan kebenaran, tetapi kebanyakan
mengganggu dan berharap menyulut emosi massa sehingga khususnya umat Islam
marah. Setelah muslim marah, telunjuk mereka jelas mengejek bahwa muslim itu
intoleransi dan teroris.
Perlu
Ruang Debat Terkontrol
Untuk masalah perdebatan agama ini, memang tidak bisa
dicegah. Setiap agama berharap orang lain mengikuti agamanya. Salah satu
caranya adalah membandingkan bahwa agama yang dianutnya lebih baik dibandingkan
agama yang lain. Ini jelas harus disalurkan dan dikontrol oleh pemerintah.
Pemerintah bisa menyiapkan situs, web, atau apalah namanya di dunia maya untuk
menyalurkan perdebatan ini sekaligus mengontrolnya.
Biarkan
perdebatan berlangsung dalam situs-situs yang disediakan pemerintah sehingga
bisa dikontrol dengan baik. Selama perdebatan itu berlangsung dengan baik dan
penuh pengetahuan, biarkan saja berkembang dengan baik pula. Akan tetapi, jika perdebatan
itu mengarah pada penghinaan dan fitnah tak berdasar, itu harus segera
ditindak.
Jangan
biarkan para penghina itu membuat situs, web, blog, ataupun tayangan video
sendiri. Hal itu disebabkan situasi perdebatan dan pertengkaran menjadi tidak
terkontrol dan sulit dideteksi. Akhirnya, bisa menjadi perselisihan di dunia
nyata yang malahan berakibat lebih fatal daripada sekedar perselisihan.
Larang
keras setiap perdebatan yang berada di luar jalur resmi. Dengan demikian,
perdebatan akan lebih menyempit dan setiap pendebat akan menyiapkan dirinya
dengan berbagai pengetahuan yang berguna, bukan kebohongan, fitnah, atau
penghinaan yang menjijikan.
No comments:
Post a Comment