oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Ini kali kedua saya menulis
tentang hal ini. Dulu saya menulis dengan judul “Ganja Tidak Salah”. Tidak disangka tulisan itu menimbulkan banyak
reaksi positif, paling tidak, banyak yang ingin mengontak saya, tetapi semuanya
berasal dari Eropa dan rata-rata memang “pengusaha
ganja”. Mereka kirim foto-foto ladang ganja dengan diri mereka juga.
Tulisan kali ini mencoba ikut menanggapi usulan ekspor
ganja sebagai salah satu komoditas ekspor nasional yang sempat dilontarkan
politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Rafli Kande. Akan tetapi, belakangan
dia ditegur partainya, lalu meminta maaf.
Sebetulnya, kesalahan dia itu adalah mengajukan ekspor
ganja sebelum diketahui manfaat ganja yang dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah maupun secara hukum. Ganja itu memang barang haram yang tergolong
narkotika kelas 1. Itulah yang membuatnya diserang dan dianggap bersalah.
Seharusnya, dia dorong dulu penelitian tentang ganja hingga berhasil dan
anggarkan dananya untuk penelitian tersebut. Dia kan anggota DPR RI yang
memiliki kuasa dalam anggaran. Jika penelitian itu berhasil dan memang terbukti
ganja ada manfaatnya, baru dorong perubahan undang-undang sekaligus upaya
ekspor ganja dalam bentuk jadi, bisa berbentuk makanan atau obat.
Dalam tulisan yang lalu saya menjelaskan bahwa ganja itu
tidak bersalah dan tidak boleh dimusuhi.
Kalau orang Eropa, bilang, “Itu kan hanya tanaman.”
Saya bilang, “Itu kan ciptaan Allah swt.”
Orang Eropa yang tadi saya sebutkan tidak mengerti jika
manusia harus bermusuhan dengan tanaman. Saya berpendapat jangan ada yang
dimusuhi atau dimusnahkan karena akan mengganggu ekosistem dan rantai makanan.
Contoh pemusnahan nyamuk pernah terjadi di Afrika,
akibatnya kucing banyak yang mati. Hal itu disebabkan nyamuk adalah makanan
cicak, cicak makanan kucing. Karena nyamuk musnah, cicak tidak punya makanan
dan ikut musnah, akibatnya kucing kelaparan, mati juga. Begitulah rantai
makanan bekerja.
Contoh lain ketidakseimbangan adalah kita bosan harus
memotong rumput terus-terusan karena tumbuh lagi, tumbuh lagi. Akhirnya, jalan
ditembok, pekarangan ditembok, saluran pembuangan air ditembok juga, semua
diaspal. Akibatnya, tanah tidak bisa menyerap air hujan. Akibat lebih jauhnya,
kalau musim hujan, banjir; kalau kemarau, kekurangan air bersih. Itu gara-gara
kita memusnahkan rumput.
Sampai hari ini kita mungkin belum tahu bahwa ganja ada
gunanya karena belum ada penelitian tentang hal itu. Akan tetapi, kalau tanaman
ganja dimusnahkan, bisa terjadi ketidakseimbangan alam yang kita belum tahu apa
itu. Hal yang jelas adalah “seluruh
ciptaan Allah swt tidak akan pernah sia-sia”. Ganja itu tidak bersalah.
Tanaman itu ciptaan Allah swt. Kitanya saja yang belum tahu manfaatnya. Kita
hanya tiba-tiba dikejutkan oleh efek negatif dari “penyalahgunaan ganja”. Ganjanya sendiri tidak bermasalah. Yang
bersalah adalah manusianya yang menyalahgunakan tanaman itu. Hal itu
sebagaimana alkohol dan morfin yang bermanfaat jika digunakan untuk keperluan
medis, pengobatan. Alkohol dan morfin jika diminum sembarangan, itulah
penyalahgunaan dan bisa berakibat rusaknya kesehatan serta pelanggaran hukum. Contoh
lain, obat nyamuk bakar tidak salah, Bodrex tidak salah, Coca Cola tidak
bersalah, tetapi jika obat nyamuk bakar dan Bodrex dibubukkan, lalu diminum bareng
Coca Cola, jadilah penyalahgunaan. Itu mah
bukan mengakibatkan “fly” lagi,
melainkan ngajak “modar”.
Ganja pun jangan dimusuhi. Tanaman itu bergantung kepada kita
menyikapinya. Dulu ketika saya menyusun buku “Bahaya Napza bagi Pelajar”, saya dibantu Polda Jawa Barat dalam
mencari bahan-bahan tulisannya. Napza itu singkatan dari “Narkotika, Psikotropika, dan Zat Addiktif Lainnya”. Saya mendengar
bahwa dulu ibu-ibu di Aceh terbiasa menggunakan daun ganja sebagai bumbu penyedap
masakan. Kalau di Pulau Jawa seperti daun salam, pandan, atau lengkoas. Sepertinya,
tak ada masalah jika jadi penyedap masakan. Akan tetapi, menjadi masalah jika
ganja dikeringkan, lalu dibentuk seperti tembakau untuk kemudian dihisap
sebagaimana rokok linting. Nah, ini baru penyalahgunaan yang mengakibatkan
orang kehilangan kesadaran. Segala sesuatu kalau disalahgunakan, memang menjadi
bahaya.
Usulan Rafli Kande sebenarnya bagus agar ganja diekspor,
tetapi jangan diekspor mentahnya karena rawan penyalahgunaan. Sebaiknya, adakan
dulu penelitian, lalu jika memang para peneliti kita menemukan manfaat dari
tananam ganja, baik sebagai makanan maupun obat-obatan, umumkan ke seluruh
dunia, lalu biarkan para peneliti dunia mengujinya hingga hasil penelitian kita
tak terkalahkan. Hal itu akan membanggakan Indonesia sebagai salah satu negara
peneliti di samping memiliki hak paten atas hasil penelitian itu. Setelah itu,
buat produk makanan atau obat-obatan dari hasil penelitian itu, baru diekspor. Hasil
olahan ganja itu pun akan menjadi paten milik Indonesia.
Itu juga kalau hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada
manfaat positif dari tanaman ganja. Kalau tidak, ya jangan. Akan tetapi, jangan
juga dimusnahkan karena dikhawatirkan bisa mengganggu keseimbangan alam yang
kita belum tahu apa akibatnya.
Sampurasun.
No comments:
Post a Comment