Rabu, 04 Mei 2011

NII Kartosoewiryo Lebih Bagus

oleh Tom Finaldin


Bandung, Putera Sang Surya

Mencermati bom bunuh diri di masjid kepolisian Cirebon pada saat shalat Jumat yang dilakukan Muhammad Syarif menandakan bahwa dia dikendalikan dan diasuh oleh orang-orang yang tidak mengerti agama dengan baik. Bahkan, mungkin sama sekali tidak tahu apa itu agama Islam dan tidak tahu apa sebenarnya itu NII. Besar sekali kemungkinan para mentornya hanya memahami Al Quran sepotong-sepotong. Bahkan, bisa jadi sengaja Al Quran dipotong-potong untuk mengelabui generasi muda yang ghirah Islam-nya tinggi semacam Muhammad Syarif agar emosinya meledak dan melakukan aktivitas-aktivitas sesuai kepentingannya, bukan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Tak ada alasan yang dapat dijadikan sandaran untuk melakukan aksi-aksi teror dalam meninggikan kalimah Allah swt serta memuliakan Islam dan kaum muslimin di Indonesia ini. Masih sangat banyak cara atau media yang dapat digunakan untuk keperluan itu dengan lebih baik, bersih, dan terhormat di hadapan Allah swt.

Kalaulah benar Muhammad Syarif melakukan teror itu untuk mewujudkan Negara Islam Indonesia, timbul pertanyaan, NII yang mana? NII yang dipimpin oleh siapa? NII yang punya dasar sejarah yang mana?

Dalam sejarah Indonesia yang disebut NII dan atau DI/TII itu adalah yang dibina dan dipimpin oleh SM Kartosoewiryo. NII itu muncul disebabkan hasil dari Perundingan Renville. Berdasarkan Perundingan Renville, wilayah Indonesia itu hanyalah Yogyakarta dan beberapa karesidenan di sekitarnya. Jadi, di luar itu bukanlah wilayah Indonesia dan sangat terbuka bagi penjajahan Belanda. SM Kartosoewiryo menggunakan kekosongan kekuasaan di luar Yogyakarta dan beberapa karesidenan itu untuk memproklamasikan NII agar rakyat terlindung dari kejahatan penjajahan Belanda.

Ketika NII harus dihentikan untuk melanjutkan kemerdekaan Republik Indonesia, TNI menggunakan taktik Pagar Betis. Taktik ini berupa pengurungan terhadap NII yang berada di gunung-gunung. Strategi ini ternyata berhasil jitu. NII pun menyerah dan turun gunung. Para generasi muda yang dulunya bergabung dalam NII menyatakan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Para prajurit NII menyerah salah satunya adalah disebabkan mereka tidak sanggup menyakiti, melukai, atau menembaki orang-orang desa yang selalu melaksanakan shalat di pos-pos Pagar Betis. Mereka mendirikan NII adalah untuk membela rakyat. Semangat mereka adalah semangat Islam. Dengan demikian, timbul perasaan sangat berat untuk menembaki rakyat desa beragama Islam yang rajin melaksanakan shalat. Memang pada saat terjadi Pagar Betis orang-orang desa itu ditempatkan di lapisan pertama yang berhadapan langsung dengan NII mengitari gunung-gunung. Lapisan kedua baru diisi oleh prajurit TNI.

Berdasarkan catatan sejarah NII tersebut, timbul keanehan terhadap orang-orang yang melakukan aksi teror atas nama NII saat ini, terutama yang dilakukan Muhammad Syarif. Pasukan DI/TII tak sanggup membunuh orang-orang desa yang kerap melaksanakan shalat. Oleh sebab itu, mereka rela menyerah, meletakkan senjata, meskipun itu bukan satu-satunya alasan DI/TII menyerah. Berbeda jauh dengan aksi teror bom paku di masjid kepolisian itu yang dilakukan justru saat melaksanakan shalat Jumat. Dia memiliki kemampuan membunuh orang yang sedang melakukan shalat wajib. Oleh sebab itu, menurut saya, NII Kartosoewiryo lebih bagus karena tidak mau membunuh orang yang rajin shalat.

Tak berlebihan kiranya bila dikatakan bahwa Muhammad Syarif mendapatkan pengetahuan yang tidak utuh dari mentornya mengenai ajaran Islam dan mengenai NII asli Kartosoewiryo sendiri. Oleh sebab itu, perjuangan menegakkan NII yang dilakukannya sangat berbeda jauh dengan yang dilakukan Kartosoewiryo. Lantas, NII yang mana yang diperjuangkan oleh kelompoknya? Mungkin NII baru yang sejarahnya terlepas dari sejarah NII asli. Mungkin juga NII jadi-jadian yang diciptakan para penjahat untuk menimbulkan kebencian terhadap ajaran Islam, menciptakan huru-hara, mengalihkan perhatian publik dari masalah-masalah yang saat ini melilit para elit di negeri ini, dan atau memuluskan kepentingan-kepentingan politik-ekonomi tertentu. Kalaulah memang itu yang terjadi, berarti negeri ini sedang dipermainkan para penjahat borok kudisan penuh kurap dan panu yang pura-pura menjadi orang-orang baik dan terhormat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar