oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Pengennya Amerika Serikat (AS)
itu disebut “polisi dunia”, menertibkan dan mengamankan seluruh negara. Padahal,
mereka kalah perang di Vietnam dan diusir memalukan oleh negara miskin Somalia.
Saya masih
ingat foto-foto lama ketika pasukan AS pergi terusir dari Somalia “dibujuran”
oleh anak-anak kecil. Dibujuran itu adalah bahasa Sunda yang kalau diilustrasikan
seperti anak-anak kecil membuka celananya dan memperlihatkan pant*tnya kepada tentara
AS sebagai penghinaan. Tentara AS “ditongenggan” ku barudak leutik. Amerika Serikat
kalah dalam “Pertempuran Mogadishu” yang dikenal dengan “Black Hawk Down”.
Foto
orang-orang yang mengusir pasukan AS di Somalia saya dapatkan dari Wikipedia.
![]() |
| Orang-orang Somalia mengusir tentara AS (Foto: Wikipedia) |
Di
Vietnam pun AS kalah telak. Tentara Vietnam itu belajar perang dari tentara Indonesia.
Buku-buku perang yang digunakan mereka untuk belajar perang adalah tulisan Jenderal
A.H. Nasution tentang perang gerilya. Indonesia itu tidak pernah kalah perang.
Sekarang
mulai paham kan kenapa tidak ada satu negara pun yang berani menantang perang
terbuka pada Indonesia?
Kembali
ke soal AS yang selalu ikut campur konflik dalam negeri orang lain. Seluruh negara
yang dicampuri AS itu selalu sedang terjadi konflik di dalam negaranya.
Negara-negara seperti Irak, Libya, termasuk Venezuela memang sedang berada
dalam konflik berat di dalam negaranya antara pemerintah melawan oposisi. AS hampir
selalu membela oposisi untuk menggulingkan pemerintah yang sah. Kemudian, pergi
meninggalkan negara itu setelah mengambil sumber dayanya dalam keadaan kacau
balau dan rusak.
Indonesia
harus belajar dari hal itu, apalagi pernah mengalaminya saat lalu. AS berupaya
menggulingkan pemerintah RI yang dipimpin Soekarno dengan alasan komunisme
karena memang PKI adalah partai besar saat itu dan dekat dengan pemerintah. Hasilnya,
setelah Soekarno jatuh, untuk sepuluh tahun pertama sejak Soekarno diganti
Soeharto, Indonesia memang mengalami pembangunan, tetapi setelah 1981 terjadi
banyak kerusakan yang akhirnya Soeharto dijatuhkan rakyatnya sendiri. Itu
kenyataan.
Banyak
sekali contohnya. Oleh sebab itu, agar negara tidak jatuh dalam kerusakan, jaga
persatuan dan jangan biarkan tangan-tangan pengaruh asing masuk ke Indonesia.
Perbedaan paham dan pemikiran antara pemerintah dan oposisi harus diniatkan
untuk perbaikan kehidupan negara, bukan untuk menjatuhkan dan menimbulkan kerusakan,
baik fisik maupun nonfisik. Jangan pecahkan negara karena perbedaan-perbedaan
kecil.
Di
samping itu, tentara kita harus kuat, baik fisiknya, mentalnya, maupun Alutsista-nya.
Kita harus punya pasukan kuat yang tidak mudah tergoda oleh duniawi seperti
yang terjadi di Venezuela yang tentaranya sangat lemah, baik fisiknya,
mentalnya, maupun orientasinya. Tentara Venezuela banyak yang disuap AS
sehingga presidennya sendiri dibiarkan dengan mudah ditangkap pasukan AS tanpa
perlawanan berarti. Pasukan AS menangkap Presiden Maduro dengan sangat enteng
seperti menjemput pemabuk yang baru pulang main judi di tukang sate.
Rakyat
Indonesia harus belajar dari itu semua. Kalau tidak, kalian memang harus dihukum
karena akan menghancurkan kehidupan banyak orang di negeri ini.
Sampurasun.

No comments:
Post a Comment