Friday, 16 January 2026

Amerika Serikat Memundurkan Kemanusiaan

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Memundurkan kemanusiaan berarti membuat mundur upaya-upaya untuk membangun dan menghormati manusia agar tercipta kehidupan yang lebih baik. Contoh kecil adalah dulu orang menganggap bahwa kulit berwarna lebih rendah dibandingkan kulit putih, tetapi sekarang anggapan itu sudah dijadikan kesalahan yang artinya kulit putih dan kulit berwarna tidak ada perbedaan sama sekali. Setiap manusia memiliki hak yang sama untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Derajat kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh warna kulit, tetapi oleh upaya dan manfaat yang diciptakannya dalam kehidupan.

            Kini Amerika Serikat (AS) tampak sekali membuat mundur nilai-nilai kemanusiaan, bukan soal warna kulit, melainkan tentang bertahan hidup. Soal warna kulit, mereka selalu berupaya keras setiap hari menghilangkan perbedaan itu dan itu bagus. Akan tetapi, soal “mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup”, AS membuat rusak upaya-upaya manusia yang sedang membangun kehidupan lebih baik.

            Sejak berabad-abad lalu, manusia mencoba memahami kehidupan manusia. Mereka yang memikirkan kehidupan itu biasa disebut para ilmuwan. Orang-orang cerdas ini selalu bertanya-tanya tentang aktivitas manusia dan mencari jawaban untuk menyelesaikan masalahnya. Dari hasil penelitian mereka, timbul kajian-kajian atau teori-teori tentang hubungan manusia yang digunakan untuk memahami masalah manusia. Dari pemahaman-pemahaman itu, manusia mendapatkan pengertian untuk tidak terjerumus ke dalam berbagai keburukan. Hasil penelitan para ilmuwan itu ada yang disebut “merkantilisme” yang kemudian dikoreksi oleh “realisme”, dikoreksi lagi oleh “liberalisme”, dan ke depannya mungkin ada penelitian lain yang mengoreksi pemahaman-pemahaman tersebut agar kehidupan manusia semakin baik dan tertata.


Sejak purba manusia berebut, berperang untuk hidup (Foto: KBRIS PDR Website Gambar)


            Untuk memahami “isme-isme” tadi, diperlukan satu atau dua semester perkuliahan, bahkan lebih. Akan tetapi, saya coba persempit saja dalam beberapa kalimat. Secara sederhana, pemahaman realisme menjelaskan bahwa manusia itu “selalu berupaya menguasai manusia lainnya dengan cara menaklukannya”. Hal ini bisa dilihat dari sejarah masa lalu yang dipenuhi oleh perang-perang, penaklukan, penguasaan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan kesadisan lainnya. Berbagai “game online” maupun “offline” yang bertemakan perang banyak yang terinspirasi dari perang-perang masa lalu itu. Hal ini berarti bahwa manusia untuk mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup itu harus menyerang, mengalahkan, atau menaklukan manusia lainnya. Suatu negara jika ingin hidup, harus mengalahkan negara lainnya.

            Pemahaman ini mendapatkan koreksi atau tantangan dari pemahaman baru, yaitu “liberalisme”. Dalam kajian liberalisme, agar manusia bisa mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup adalah bukan dengan menaklukan negara lain, melainkan dengan menghormati bangsa atau negara lain dengan cara melakukan “kerja sama” yang disepakati. Manusia bisa mendapatkan kebutuhan yang dimiliki negara lain dengan cara bekerja sama yang saling menguntungkan. Dengan demikian, manusia bisa terhindar dari saling membunuh untuk bertahan hidup.

            Manusia sekarang sedang lebih menyukai liberalisme yang memberikan banyak kebebasan dan kecenderungan untuk bekerja sama. Manusia bisa saling mengenal, berinteraksi lebih positif, dan mendapatkan keuntungan bersama sesuai dengan kesepakatan. Akan tetapi, tiba-tiba AS yang dipimpin Presiden Donald Trump membuat rusak hubungan manusia yang sedang terus belajar untuk saling menghormati dengan melakukan banyak permusuhan dan penaklukan. Dunia dikejutkan dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ancaman militer untuk menguasai Greenland dan merebutnya dari Denmark, bernafsu untuk merebut Bolivia, Kolombia, Meksiko, serta menggertak Iran. Itu semua memundurkan upaya-upaya terhormat manusia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. AS mengembalikan situasi ke masa lalu agar manusia saling membunuh untuk mendapatkan sumber daya alam. Itu yang terjadi.

            Sekarang manusia tinggal memilih, apakah akan mengembalikan situasi ke masa lalu yang dipenuhi kedustaan, kematian, dan kerusakan atau bertahan untuk melangkah maju agar manusia bisa lebih hidup bermartabat?

            Terserah kita sendiri sebenarnya.

            Ilustrasi manusia purba Eropa saya dapatkan dari KIBRIS PDR Website Gambar.

            Saya sebenarnya menginginkan ada pemahaman baru untuk membuat kehidupan manusia lebih baik, yaitu menggunakan “Islamisme” atau “Pancasilaisme”. Sayangnya, sampai hari ini belum ada yang menulisnya dan menyebarkannya di panggung dunia untuk memberikan sumbangan pemikiran agar hidup manusia lebih baik lagi. Mudah-mudahan pada masa depan ada anak-anak muda yang cerdas dan menuliskan penelitian-penelitian baru untuk kemaslahatan seluruh manusia. Itu namanya “rahmatan lil alamin”.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment