oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Memundurkan kemanusiaan
berarti membuat mundur upaya-upaya untuk membangun dan menghormati manusia agar
tercipta kehidupan yang lebih baik. Contoh kecil adalah dulu orang menganggap
bahwa kulit berwarna lebih rendah dibandingkan kulit putih, tetapi sekarang
anggapan itu sudah dijadikan kesalahan yang artinya kulit putih dan kulit
berwarna tidak ada perbedaan sama sekali. Setiap manusia memiliki hak yang sama
untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing. Derajat kemuliaan
manusia tidak ditentukan oleh warna kulit, tetapi oleh upaya dan manfaat yang
diciptakannya dalam kehidupan.
Kini Amerika Serikat (AS) tampak sekali membuat mundur
nilai-nilai kemanusiaan, bukan soal warna kulit, melainkan tentang bertahan
hidup. Soal warna kulit, mereka selalu berupaya keras setiap hari menghilangkan
perbedaan itu dan itu bagus. Akan tetapi, soal “mendapatkan penghidupan dan
bertahan hidup”, AS membuat rusak upaya-upaya manusia yang sedang membangun
kehidupan lebih baik.
Sejak berabad-abad lalu, manusia mencoba memahami kehidupan
manusia. Mereka yang memikirkan kehidupan itu biasa disebut para ilmuwan.
Orang-orang cerdas ini selalu bertanya-tanya tentang aktivitas manusia dan
mencari jawaban untuk menyelesaikan masalahnya. Dari hasil penelitian mereka,
timbul kajian-kajian atau teori-teori tentang hubungan manusia yang digunakan
untuk memahami masalah manusia. Dari pemahaman-pemahaman itu, manusia
mendapatkan pengertian untuk tidak terjerumus ke dalam berbagai keburukan.
Hasil penelitan para ilmuwan itu ada yang disebut “merkantilisme” yang kemudian
dikoreksi oleh “realisme”, dikoreksi lagi oleh “liberalisme”, dan ke depannya
mungkin ada penelitian lain yang mengoreksi pemahaman-pemahaman tersebut agar
kehidupan manusia semakin baik dan tertata.
| Sejak purba manusia berebut, berperang untuk hidup (Foto: KBRIS PDR Website Gambar) |
Untuk memahami “isme-isme” tadi, diperlukan satu atau dua
semester perkuliahan, bahkan lebih. Akan tetapi, saya coba persempit saja dalam
beberapa kalimat. Secara sederhana, pemahaman realisme menjelaskan bahwa
manusia itu “selalu berupaya menguasai manusia lainnya dengan cara
menaklukannya”. Hal ini bisa dilihat dari sejarah masa lalu yang dipenuhi oleh
perang-perang, penaklukan, penguasaan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan,
dan kesadisan lainnya. Berbagai “game
online” maupun “offline” yang
bertemakan perang banyak yang terinspirasi dari perang-perang masa lalu itu. Hal
ini berarti bahwa manusia untuk mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup itu
harus menyerang, mengalahkan, atau menaklukan manusia lainnya. Suatu negara jika
ingin hidup, harus mengalahkan negara lainnya.
Pemahaman ini mendapatkan koreksi atau tantangan dari
pemahaman baru, yaitu “liberalisme”. Dalam kajian liberalisme, agar manusia bisa
mendapatkan penghidupan dan bertahan hidup adalah bukan dengan menaklukan
negara lain, melainkan dengan menghormati bangsa atau negara lain dengan cara
melakukan “kerja sama” yang disepakati. Manusia bisa mendapatkan kebutuhan yang
dimiliki negara lain dengan cara bekerja sama yang saling menguntungkan. Dengan
demikian, manusia bisa terhindar dari saling membunuh untuk bertahan hidup.
Manusia sekarang sedang lebih menyukai liberalisme yang
memberikan banyak kebebasan dan kecenderungan untuk bekerja sama. Manusia bisa saling
mengenal, berinteraksi lebih positif, dan mendapatkan keuntungan bersama sesuai
dengan kesepakatan. Akan tetapi, tiba-tiba AS yang dipimpin Presiden Donald
Trump membuat rusak hubungan manusia yang sedang terus belajar untuk saling
menghormati dengan melakukan banyak permusuhan dan penaklukan. Dunia dikejutkan
dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, ancaman militer untuk
menguasai Greenland dan merebutnya dari Denmark, bernafsu untuk merebut Bolivia,
Kolombia, Meksiko, serta menggertak Iran. Itu semua memundurkan upaya-upaya
terhormat manusia untuk bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. AS
mengembalikan situasi ke masa lalu agar manusia saling membunuh untuk
mendapatkan sumber daya alam. Itu yang terjadi.
Sekarang manusia tinggal memilih, apakah akan
mengembalikan situasi ke masa lalu yang dipenuhi kedustaan, kematian, dan kerusakan
atau bertahan untuk melangkah maju agar manusia bisa lebih hidup bermartabat?
Terserah kita sendiri sebenarnya.
Ilustrasi manusia purba Eropa saya dapatkan dari KIBRIS
PDR Website Gambar.
Saya sebenarnya menginginkan ada pemahaman baru untuk
membuat kehidupan manusia lebih baik, yaitu menggunakan “Islamisme” atau “Pancasilaisme”.
Sayangnya, sampai hari ini belum ada yang menulisnya dan menyebarkannya di
panggung dunia untuk memberikan sumbangan pemikiran agar hidup manusia lebih
baik lagi. Mudah-mudahan pada masa depan ada anak-anak muda yang cerdas dan
menuliskan penelitian-penelitian baru untuk kemaslahatan seluruh manusia. Itu namanya
“rahmatan lil alamin”.
No comments:
Post a Comment