oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Saya menulis hal yang pada
pokoknya saja bahwa banyak pengamat energi di dunia ini memperkirakan bahwa
bahan bakar minyak (BBM) yang berasal dari fosil dan digunakan oleh mayoritas
manusia untuk kendaraan bermesin akan habis tiga puluh tahun ke depan. Oleh
sebab itu, negara-negara penghasil minyak berupaya keras untuk tetap
mendapatkan penghasilan besar bagi hidup rakyatnya tanpa harus menggantungkan
diri pada minyak di negaranya.
Raja Arab Saudi Salman berusaha mengatasi masa-masa sulit
nanti ketika minyak fosil habis dengan cara berkeliling ke seluruh dunia untuk
menanamkan uangnya pada berbagai fasilitas industri pada berbagai negara.
Indonesia adalah salah satu negara yang didatanginya. Dia menyebarkan dan
menanamkan uangnya agar rakyat Arab Saudi tetap bisa hidup meskipun nanti
minyak habis di negaranya. Artinya, hidup rakyatnya akan banyak ditopang oleh
industri-industri yang dibangun pada berbagai negara, termasuk di Indonesia.
![]() |
| Raja Arab Saudi Salman (Foto: BBC) |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga berupaya keras
agar rakyatnya bisa tetap hidup dan industrinya tetap berjalan. Salah satu
usahanya adalah dengan melakukan penangkapan terhadap Presiden Venezuela
Nicolas Maduro. Negara Venezuela adalah pemilik cadangan minyak yang terbesar
di dunia. Minyak di Venezuela jumlahnya sama dengan cadangan minyak tiga negara
jika digabungkan, yaitu Arab Saudi, Iran, dan Kanada. Dengan demikian, Amerika
Serikat (AS) memiliki lebih banyak lagi minyak untuk negaranya dan berbagai
industri AS tetap bisa berjalan tenang dengan lebih lama lagi.
Hal ini jelas terucap dari mulut Trump sendiri bahwa
setelah menangkap Maduro, AS akan mengelola minyak Venezuela. Dia segera
berbicara tentang minyak dan bukan soal hak asasi manusia, kesehatan rakyat,
ataupun stabilitas politik Venezuela seperti yang sering dipidatokannya. Dia
langsung bicara soal bisnis minyak.
![]() |
| Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: BBC) |
Meskipun dia membantah bahwa menangkap Maduro adalah
untuk menguasai minyak karena minyak di AS sudah cukup, fakta menunjukkan bahwa
yang dia ucapkan pertama kali adalah soal penguasaan minyak. Itu sudah
menjelaskan bahwa dia menginginkan minyak untuk dirinya dan negaranya.
Dari sini, kita bisa melihat adanya perbedaan sikap
antara Arab Saudi dengan Amerika Serikat soal minyak. Arab Saudi mengatasi
kelangkaan minya pada masa depan dengan membangun bisnis nonminyak pada
berbagai negara agar rakyatnya tetap bisa hidup. Adapun AS melakukan
penyerangan terhadap Venezuela dan menangkap presidennya agar dia bisa lebih
banyak lagi menguasai ladang-ladang minyak untuk diri dan negaranya.
Baik Arab Saudi maupun AS sama-sama melakukan kewajiban
untuk hidup rakyatnya masing-masing. Perbedaannya adalah pada caranya dan pada
nilai-nilai moralitas manusia.
Mana yang lebih bermoral?
Arab Saudi atau Amerika Serikat?
Pembaca bisa menilainya sendiri dengan menggunakan nurani
sebagai manusia. Mari kita menilai sesuai dengan informasi lebih luas dan
kejujuran hati. Untuk mampu menilai dan merasakan sesuatu dengan lebih jernih,
pikiran dan perasaan kita harus berada dalam posisi positif. Oleh sebab itu,
berhenti bergaul dan bergabung dalam kelompok-kelompok yang dipenuhi suasana
negatif.
Foto Raja Salman dan Presiden Trump saya dapatkan dari
BBC.


No comments:
Post a Comment