oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Iran adalah negara terkuat
Timur Tengah yang menentang Amerika Serikat (AS). Saya tidak sedang membicarakan negara teman AS
seperti Arab Saudi. Negara-negara yang saya maksud adalah negara Timur Tengah
yang bermusuhan dengan AS.
Dari seluruh negara itu, Iran adalah negara yang paling
kuat dan paling siap melawan AS serta tidak harus kalah. Kalau soal keberanian,
Irak, Suriah, atau Libya sangat berani, tetapi tidak sekuat Iran dan buktinya
mereka memang dikalahkan AS. Berbeda dengan Iran yang sangat kuat meskipun
dikucilkan, diembargo, dan dirusakkan ekonominya, termasuk diserang secara
militer menggunakan senjata mutakhir. Iran tetap berdiri tegak dan teguh dengan
deklarasinya, yaitu “Anti-Amerika Serikat dan Anti-Israel”.
Ada beberapa penyebab yang membuat Iran menjadi negara
terkuat dalam melawan AS. Akan tetapi, saya sangat tertarik pada satu hal saja,
yaitu “persatuan”. Hal itu yang justru menjadi kelemahan dan ketakutan AS.
AS memang sangat takut dengan persatuan sebuah negara.
Dia tidak akan pernah berani menyerang negara yang rakyatnya bersatu. AS selalu masuk ke dalam sebuah negara jika
di negara itu sedang terjadi konflik berat antara pemerintah dengan rakyatnya. Biasanya,
AS selalu berpihak pada oposisi yang melawan pemerintah, kemudian mengeruk
sumber daya negara itu, lalu pergi meninggalkan negara itu dalam keadaan
berantakan.
Iran adalah negara yang sangat kuat persatuannya. Bukan berarti
mereka tidak punya masalah, tetapi masalahnya selalu bisa diselesaikan oleh
pemerintahnya. Soal penyelesaiannya menggunakan cara halus, lembut, tegas,
kasar, atau mengerikan, itu soal lain yang bisa ditulis dalam wacana lain. Hal
yang jelas, Iran tetap kukuh dalam persatuannya.
Meskipun dicoba oleh AS dan Israel menciptakan demonstrasi
rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, Iran tetap tangguh dan
menyelesaikan demonstrasi itu dengan menangkap para perusuh serta mengadilinya,
bahkan awalnya akan menghukum mati para penjahat itu yang telah membakar mobil di
jalanan, gedung-gedung, membunuh tantara, dan warga lain yang berbeda paham
dengan mereka. Hanya dalam hitungan jam Iran mampu menghentikan mereka.
![]() |
| Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khameini (Foto: CNBC Indonesia) |
Kerusuhan yang katanya demonstrasi itu jelas diprovokasi
Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Netanyahu. Kedua penguasa itu dengan
sangat telanjang memprovokasi perusuh untuk merebut pemerintahan dan
menggulingkan pemerintah yang sah. Perilaku mereka tersebar pada berbagai
berita resmi di seluruh dunia. Tak perlu profesor untuk menganalisa hal itu. Anak
baru lulus SMA pun bisa.
Beberapa jam setelah pemerintahan Iran mengendalikan kembali
negaranya, PM Israel segera menghubungi Presiden AS untuk tidak melakukan
serangan ke Iran. Hal itu disebabkan Israel bakal hancur dalam sekejap oleh
Iran berdasarkan pengalaman “perang 12 hari” yang membuat Israel meminta gencatan
senjata karena porak poranda diserang Rudal Iran yang tidak bisa diantisipasi
oleh “iron dome” Israel. Demikian
pula AS yang sudah bisa menghitung biaya dan kerugian yang akan diderita jika menyerang
Iran.
Ancaman penyerangan terhadap Iran yang beberapa hari sebelumnya
sangat keras dan meyakinkan oleh AS dan Israel, berubah menjad omon-omon doang.
Mereka takut dengan persatuan Iran.
Dari hal itu, kita, Indonesia, bisa belajar bahwa jika
ingin negara ini hancur berantakan, teruslah berkonflik serta mintalah kepada
AS, Israel, dan negara lain yang tidak ingin Negara Indonesia maju untuk
mendukung huru-hara di Indonesia. Akan tetapi, jika ingin Indonesia maju
sejahtera sesuai dengan Pancasila, tetaplah bersatu dan selesaikan masalah di
antara kita sendiri dengan jujur, jernih, dan bertujuan untuk membangun bangsa,
jauh dari sikap saling menjatuhkan.
Ingat kata pepatah lama, “bersatu kita teguh, bercerai
kita kawin lagi”.
Iya, toh?
Kalau bercerai, tidak perlu larut dalam kesedihan, kawin
lagi adalah hal yang membahagiakan asal ketemu pasangan yang tepat.
Foto Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamaeni saya
dapatkan dari CNBC Indonesia.
Sampurasun.

No comments:
Post a Comment