Tuesday, 20 January 2026

Iran Terkuat Melawan Amerika Serikat

 


oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Iran adalah negara terkuat Timur Tengah yang menentang Amerika Serikat (AS). Saya  tidak sedang membicarakan negara teman AS seperti Arab Saudi. Negara-negara yang saya maksud adalah negara Timur Tengah yang bermusuhan dengan AS.

            Dari seluruh negara itu, Iran adalah negara yang paling kuat dan paling siap melawan AS serta tidak harus kalah. Kalau soal keberanian, Irak, Suriah, atau Libya sangat berani, tetapi tidak sekuat Iran dan buktinya mereka memang dikalahkan AS. Berbeda dengan Iran yang sangat kuat meskipun dikucilkan, diembargo, dan dirusakkan ekonominya, termasuk diserang secara militer menggunakan senjata mutakhir. Iran tetap berdiri tegak dan teguh dengan deklarasinya, yaitu “Anti-Amerika Serikat dan Anti-Israel”.

            Ada beberapa penyebab yang membuat Iran menjadi negara terkuat dalam melawan AS. Akan tetapi, saya sangat tertarik pada satu hal saja, yaitu “persatuan”. Hal itu yang justru menjadi kelemahan dan ketakutan AS.

            AS memang sangat takut dengan persatuan sebuah negara. Dia tidak akan pernah berani menyerang negara yang rakyatnya bersatu.  AS selalu masuk ke dalam sebuah negara jika di negara itu sedang terjadi konflik berat antara pemerintah dengan rakyatnya. Biasanya, AS selalu berpihak pada oposisi yang melawan pemerintah, kemudian mengeruk sumber daya negara itu, lalu pergi meninggalkan negara itu dalam keadaan berantakan.

            Iran adalah negara yang sangat kuat persatuannya. Bukan berarti mereka tidak punya masalah, tetapi masalahnya selalu bisa diselesaikan oleh pemerintahnya. Soal penyelesaiannya menggunakan cara halus, lembut, tegas, kasar, atau mengerikan, itu soal lain yang bisa ditulis dalam wacana lain. Hal yang jelas, Iran tetap kukuh dalam persatuannya.

            Meskipun dicoba oleh AS dan Israel menciptakan demonstrasi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, Iran tetap tangguh dan menyelesaikan demonstrasi itu dengan menangkap para perusuh serta mengadilinya, bahkan awalnya akan menghukum mati para penjahat itu yang telah membakar mobil di jalanan, gedung-gedung, membunuh tantara, dan warga lain yang berbeda paham dengan mereka. Hanya dalam hitungan jam Iran mampu menghentikan mereka.


Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khameini (Foto: CNBC Indonesia)


            Kerusuhan yang katanya demonstrasi itu jelas diprovokasi Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Netanyahu. Kedua penguasa itu dengan sangat telanjang memprovokasi perusuh untuk merebut pemerintahan dan menggulingkan pemerintah yang sah. Perilaku mereka tersebar pada berbagai berita resmi di seluruh dunia. Tak perlu profesor untuk menganalisa hal itu. Anak baru lulus SMA pun bisa.

            Beberapa jam setelah pemerintahan Iran mengendalikan kembali negaranya, PM Israel segera menghubungi Presiden AS untuk tidak melakukan serangan ke Iran. Hal itu disebabkan Israel bakal hancur dalam sekejap oleh Iran berdasarkan pengalaman “perang 12 hari” yang membuat Israel meminta gencatan senjata karena porak poranda diserang Rudal Iran yang tidak bisa diantisipasi oleh “iron dome” Israel. Demikian pula AS yang sudah bisa menghitung biaya dan kerugian yang akan diderita jika menyerang Iran.

            Ancaman penyerangan terhadap Iran yang beberapa hari sebelumnya sangat keras dan meyakinkan oleh AS dan Israel, berubah menjad omon-omon doang. Mereka takut dengan persatuan Iran.

            Dari hal itu, kita, Indonesia, bisa belajar bahwa jika ingin negara ini hancur berantakan, teruslah berkonflik serta mintalah kepada AS, Israel, dan negara lain yang tidak ingin Negara Indonesia maju untuk mendukung huru-hara di Indonesia. Akan tetapi, jika ingin Indonesia maju sejahtera sesuai dengan Pancasila, tetaplah bersatu dan selesaikan masalah di antara kita sendiri dengan jujur, jernih, dan bertujuan untuk membangun bangsa, jauh dari sikap saling menjatuhkan.

            Ingat kata pepatah lama, “bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”.

            Iya, toh?

            Kalau bercerai, tidak perlu larut dalam kesedihan, kawin lagi adalah hal yang membahagiakan asal ketemu pasangan yang tepat.

            Foto Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamaeni saya dapatkan dari CNBC Indonesia.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment