oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Biasanya anak-anak muda, baik
Sunda ataupun bukan sama saja, suka memposting aktivitasnya di café, tempat-tempat
nongkrong, tempat wisata, tempat ibadat, mall, tempat belanja, fleksing-fleksing
dikit pamer keberhasilan atau kemewahan. Itu sering kita lihat pada berbagai media sosial. Itu biasa saja,
normal. Ada yang memang sedang berbahagia atau pura-pura bahagia. Akan tetapi, ada
yang menarik akhir-akhir ini yang memperlihatkan banyak anak muda Sunda atau bukan
Sunda, tetapi sudah tinggal di Jawa Barat tampak bahagia memposting dirinya
sedang berada di selokan-selokan atau drainase yang dibangun oleh Provinsi Jawa
Barat. Mereka tampak senang bahwa parit atau aliran air yang ada di lingkungan
mereka bersih, bagus, kokoh, dan indah. Mereka memposting itu sambil bawa-bawa
nama besar “Gubernur Konten Dedi Mulyadi”. Seolah-olah mereka berkata ini lho
hasil kerja “Bapak Aing”.
Sebetulnya, bukan hanya selokan yang mereka posting,
melainkan jalan provinsi yang mulus, batas kota yang anggun, jembatan yang
mewah, sungai-sungai yang tertata rapi, dan bangunan fisik lainnya yang
dibangun Provinsi Jawa Barat. Bahkan, mereka bangga bisa berjalan-jalan di “Lembur Pakuan”, tempat tinggal Gubernur
Provinsi Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ini hal yang bikin menarik.
Mereka tampak bergembira berada di tempat-tempat itu dan
memamerkannya di akun-akun media sosial yang mereka miliki. Akan tetapi, saya
justru merasa sedih karena sesungguhnya yang namanya selokan, jalan, trotoar, jembatan,
bangunan-bangunan pemerintah, sungai, batas kota, atau pemandangan yang indah
adalah hal yang biasa saja.
![]() |
| Anak-anak muda senang berfoto di tempat pembangunan yang berhasil (Foto: YouTube) |
Mengapa mereka berbahagia dan mempostingnya di media sosial
untuk hal yang biasa-biasa saja itu?
Hal itu disebabkan mereka baru merasakan hak-hak mereka
diberikan dengan baik. Mereka tidak merasakan hal itu sebelumnya. Infrastuktur,
kebersihan, pemandangan, keanggunan, ketertiban, dan sebagainya itu sebenarnya
sudah seharusnya merupakan hak anak-anak muda dan rakyat secara keseluruhan yang
sejak lama harus diberikan.
Pertanyaannya adalah mengapa hak-hak itu tampak mereka
rasakan pada zaman Dedi Mulyadi? Mengapa sebelumnya tidak mereka rasakan?
Kita memang tidak boleh menghina atau merendahkan pemerintah
sebelum-sebelumnya karena besar atau kecilnya pemimpin sebelumnya pun telah
melakukan hal-hal baik. Akan tetapi, harus diakui bahwa dalam waktu yang sangat
singkat, di bawah satu tahun, Dedi sudah melakukan banyak hal massif dan positif,
baik untuk fisik maupun nonfisik di Jawa Barat.
Perilaku anak-anak muda yang memposting berbagai kegiatan
pembangunan provinsi itu mudah sekali ditemukan pada berbagai media sosial.
Memang belum semua target pembangunan tercapai, tetapi mereka sudah tampak
senang. Kesenangan rakyat akan bertambah jika berbagai program kerja Dedi terus
konsisten dilakukan sepanjang masa kepemimpinannya. Di tambah lagi, akan lebih
menggembirakan jika para bupati, walikota, lurah, Kades, dan jajarannya
sama-sama kontinyu untuk melakukan pembangunan-pembangunan yang menyenangkan
rakyatnya. Tanpa pemerintah harus mengeluarkan biaya Humas yang banyak,
anak-anak muda Sunda akan senang hati memposting kegiatan-kegiatan itu tanpa
harus dibayar.
Meskipun demikian, anak-anak muda dan rakyat keseluruhan
pun tidak boleh lupa bahwa keberhasilan pembangunan itu bisa berhasil bukan
hanya dengan dukungan, melainkan pula dengan kritikan-kritikan konstruktif positif
dengan niat meningkatkan keadaan bukan untuk membuat gaduh dengan energi negatif
kebencian yang sama sekali tidak ada gunanya.
Ilustrasi jembatan di Pangandaran saya dapatkan dari
YouTube.
Sampurasun.

No comments:
Post a Comment