Saturday, 10 January 2026

Amerika Serikat Selalu Bikin Negara yang Dicampurinya Rusak

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kita harus membiasakan diri mengatakan Amerika Serikat (AS), bukan Amerika karena Amerika Serikat (AS) adalah sebuah negara, sedangkan Amerika adalah suatu benua, kawasan, atau region yang di dalamnya termasuk juga Amerika Latin. Sudah berulang-ulang AS mencampuri hidup negara lain, bahkan melakukan penyerangan dan menaklukannya dengan alasan melindungi hak asasi manusia, menegakkan demokrasi, dan membela rakyat negara yang dicampurinya. Akan tetapi, setiap negara yang dicampurinya selalu rusak, berantakan. Alasan Ham dan demokrasi sama sekali tidak terwujud, hanya kekalutan yang terjadi. Jika negara itu tidak cerdas, negara itu akan terus rusak dan kelimpungan hingga hari ini.

            Kita ambil contoh Irak yang dulu dipimpin Saddam Husein diserang AS dengan alasan demokrasi dan melindungi rakyat Irak dari kekejaman Saddam Husein. Irak berhasil dikalahkan AS dan Saddam Husein dihukum mati setelah sebelumnya patungnya digulingkan.

Akan tetapi, terciptakah kemakmuran, ketertiban, dan  kehidupan rakyat yang lebih baik?

Tidak, sama sekali tidak!

Bahkan, seorang tukang service motor yang menggulingkan patung Sadam Husein merasa menyesal dan ingin kembali menegakkan patung itu. Sayangnya, itu tidak mungkin dilakukan. Dia merasakan penderitaan luar biasa setelah dikuasai AS. Irak yang dikenal dengan negeri dongeng “1001 malam” itu berantakan.


Penggulingan patung Saddam Husein di Irak (Foto: ABC News)


Contoh lain adalah Libya yang ditaklukan AS Bersama Nato dengan alasan demokrasi dan hak asasi manusia yang dikabarkan menderita di bawah kepemimpinan Moamar Khadafi. Libya yang sangat makmur itu harus runtuh di tangan AS. Padahal, dulunya, hidup rakyatnya tercukupi. Bahkan, ada pengakuan dari mahasiswa asal Indonesia yang mengagumkan. Ketika itu mobilnya rusak dan hendak diperbaiki, tetapi tidak jadi diperbaiki karena pemerintah Libya Khadafi menggantinya dengan mobil baru.

Sekarang bagaimana nasib Libya?

Berantakan!

Demikian juga dengan negara-negara lainnya, seperti, Iran, Chile, Kongo, Guatemala, Afghanistan, Suriah, dan Mesir, berantakan dan jika pemimpinnya tidak cerdas, akan tetap berantakan. Kalaupun punya pemimpin cerdas, mereka harus bersusah payah berdiri dan membangun. Adapun AS pergi begitu saja setelah mendapatkan keuntungan dari negeri-negeri itu.

Ketika AS datang ke negeri-negeri itu awalnya rakyatnya bersuka cita karena dianggap akan menyelamatkan mereka dari pemerintahnya sendiri. Akan tetapi, kehidupan rakyat justru semakin menderita dan tidak jelas mau ke mana.

Indonesia pun pernah mengalami hal serupa. Kejatuhan Presiden RI ke-1 Soekarno adalah operasi dari CIA AS. Akibatnya, rakyat harus hidup di bawah kendali Presiden Soeharto dalam pengekangan serta kungkungan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Rakyat muak dengan Soeharto yang kemudian dijatuhkan sehingga membuka lembaran awal reformasi.

Soeharto memang tampak ditekan AS. Ketika Timor Timur berada dalam anarkisme karena ditinggal Portugis, AS membujuk Soeharto agar mengurus Timor Timur. Jadilah Timor Timur salah satu provinsi di Indonesia. Soeharto mengurusnya dengan dana yang sangat besar. Akan tetapi, AS pula yang bikin keributan dengan tuntutan memisahkan diri dari Indonesia. Akibatnya, Soeharto disalahkan atas keadaan Timor Timur. Akhirnya, Timor Timur berpisah dari Indonesia dan berubah menjadi Timor Leste serta dilndungi Australia.

Belakangan diketahui upaya pemisahan diri itu karena soal minyak yang kemudian dikuasai Australia.

Sekarang bagaimana nasib Timor Leste?

Sudah menjadi negara yang makmur dan bahagia?

Tidak, sama sekali tidak!

Negara itu sekarang hanya menjadi negara termiskin di dunia setelah Negara Burundi. Minyak yang ada di sana tidak membuat rakyatnya makmur dan sebentar lagi habis dikeruk Australia. Negara itu hanya menunggu masa bangkrutnya karena jika minyaknya habis, Australia akan meninggalkannya dan tak lagi memberikan bagian dari perusahaan minyaknya yang hanya sedikit itu.

Sekarang Venezuela yang presidennya ditangkap AS dengan alasan Narkoba, ekonomi, dan Ham akan bernasib sama karena seperti negara-negara lainnya juga yang dicampuri AS hanya diambil minyaknya atau sumber daya alamnya, sedangkan rakyatnya dicuekin. Kalaupun diberi, bagiannya hanya kecil saja.

Bagi kita, rakyat Indonesia, harus berhati-hati bersikap dan bekerja sama dengan negara yang mana saja karena mereka bukan kita dan selalu menginginkan keuntungan dari kita. Berhubungan boleh saja, tetapi kita harus cerdas dalam berinteraksi agar kita yang lebih untung, bukan negara lain. Tetap dalam politik luar negeri yang bebas dan aktif, berteman dengan siapa saja, tetapi waspada agar tidak dikendalikan siapa pun.

Ilustrasi Patung Saddam Husein yang digulingkan di Irak saya dapatkan dari ABC News.

Sampurasun.

No comments:

Post a Comment