oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Kita harus membiasakan diri
mengatakan Amerika Serikat (AS), bukan Amerika karena Amerika Serikat (AS)
adalah sebuah negara, sedangkan Amerika adalah suatu benua, kawasan, atau
region yang di dalamnya termasuk juga Amerika Latin. Sudah berulang-ulang AS
mencampuri hidup negara lain, bahkan melakukan penyerangan dan menaklukannya
dengan alasan melindungi hak asasi manusia, menegakkan demokrasi, dan membela
rakyat negara yang dicampurinya. Akan tetapi, setiap negara yang dicampurinya
selalu rusak, berantakan. Alasan Ham dan demokrasi sama sekali tidak terwujud,
hanya kekalutan yang terjadi. Jika negara itu tidak cerdas, negara itu akan
terus rusak dan kelimpungan hingga hari ini.
Kita ambil contoh Irak yang dulu dipimpin Saddam Husein
diserang AS dengan alasan demokrasi dan melindungi rakyat Irak dari kekejaman
Saddam Husein. Irak berhasil dikalahkan AS dan Saddam Husein dihukum mati
setelah sebelumnya patungnya digulingkan.
Akan
tetapi, terciptakah kemakmuran, ketertiban, dan kehidupan rakyat yang lebih baik?
Tidak,
sama sekali tidak!
Bahkan,
seorang tukang service motor yang menggulingkan patung Sadam Husein merasa
menyesal dan ingin kembali menegakkan patung itu. Sayangnya, itu tidak mungkin
dilakukan. Dia merasakan penderitaan luar biasa setelah dikuasai AS. Irak yang
dikenal dengan negeri dongeng “1001 malam” itu berantakan.
![]() |
| Penggulingan patung Saddam Husein di Irak (Foto: ABC News) |
Contoh
lain adalah Libya yang ditaklukan AS Bersama Nato dengan alasan demokrasi dan hak
asasi manusia yang dikabarkan menderita di bawah kepemimpinan Moamar Khadafi.
Libya yang sangat makmur itu harus runtuh di tangan AS. Padahal, dulunya, hidup
rakyatnya tercukupi. Bahkan, ada pengakuan dari mahasiswa asal Indonesia yang
mengagumkan. Ketika itu mobilnya rusak dan hendak diperbaiki, tetapi tidak jadi
diperbaiki karena pemerintah Libya Khadafi menggantinya dengan mobil baru.
Sekarang
bagaimana nasib Libya?
Berantakan!
Demikian
juga dengan negara-negara lainnya, seperti, Iran, Chile, Kongo, Guatemala, Afghanistan,
Suriah, dan Mesir, berantakan dan jika pemimpinnya tidak cerdas, akan tetap
berantakan. Kalaupun punya pemimpin cerdas, mereka harus bersusah payah berdiri
dan membangun. Adapun AS pergi begitu saja setelah mendapatkan keuntungan dari
negeri-negeri itu.
Ketika
AS datang ke negeri-negeri itu awalnya rakyatnya bersuka cita karena dianggap
akan menyelamatkan mereka dari pemerintahnya sendiri. Akan tetapi, kehidupan
rakyat justru semakin menderita dan tidak jelas mau ke mana.
Indonesia
pun pernah mengalami hal serupa. Kejatuhan Presiden RI ke-1 Soekarno adalah
operasi dari CIA AS. Akibatnya, rakyat harus hidup di bawah kendali Presiden
Soeharto dalam pengekangan serta kungkungan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Rakyat muak dengan Soeharto yang kemudian dijatuhkan sehingga membuka lembaran
awal reformasi.
Soeharto
memang tampak ditekan AS. Ketika Timor Timur berada dalam anarkisme karena
ditinggal Portugis, AS membujuk Soeharto agar mengurus Timor Timur. Jadilah Timor
Timur salah satu provinsi di Indonesia. Soeharto mengurusnya dengan dana yang
sangat besar. Akan tetapi, AS pula yang bikin keributan dengan tuntutan
memisahkan diri dari Indonesia. Akibatnya, Soeharto disalahkan atas keadaan
Timor Timur. Akhirnya, Timor Timur berpisah dari Indonesia dan berubah menjadi
Timor Leste serta dilndungi Australia.
Belakangan
diketahui upaya pemisahan diri itu karena soal minyak yang kemudian dikuasai
Australia.
Sekarang
bagaimana nasib Timor Leste?
Sudah
menjadi negara yang makmur dan bahagia?
Tidak,
sama sekali tidak!
Negara
itu sekarang hanya menjadi negara termiskin di dunia setelah Negara Burundi. Minyak
yang ada di sana tidak membuat rakyatnya makmur dan sebentar lagi habis dikeruk
Australia. Negara itu hanya menunggu masa bangkrutnya karena jika minyaknya
habis, Australia akan meninggalkannya dan tak lagi memberikan bagian dari
perusahaan minyaknya yang hanya sedikit itu.
Sekarang
Venezuela yang presidennya ditangkap AS dengan alasan Narkoba, ekonomi, dan Ham
akan bernasib sama karena seperti negara-negara lainnya juga yang
dicampuri AS hanya diambil minyaknya atau sumber daya alamnya, sedangkan
rakyatnya dicuekin. Kalaupun diberi, bagiannya hanya kecil saja.
Bagi
kita, rakyat Indonesia, harus berhati-hati bersikap dan bekerja sama dengan
negara yang mana saja karena mereka bukan kita dan selalu menginginkan
keuntungan dari kita. Berhubungan boleh saja, tetapi kita harus cerdas dalam
berinteraksi agar kita yang lebih untung, bukan negara lain. Tetap dalam politik
luar negeri yang bebas dan aktif, berteman dengan siapa saja, tetapi waspada
agar tidak dikendalikan siapa pun.
Ilustrasi
Patung Saddam Husein yang digulingkan di Irak saya dapatkan dari ABC News.

No comments:
Post a Comment