oleh Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Kegaduhan dunia saat ini,
2026, yang bisa menyebabkan perang dunia ketiga bisa dikatakan karena kondisi
Negara Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Masalah-masalah
di dalam negeri AS ini mendorong Trump untuk mempengaruhi negara lainnya yang
akibatnya menyebabkan kegoncangan geopolitik dan ekonomi. Masalah-masalah itu,
di antaranya, utang yang banyak, lemahnya uang dollar AS, ketakutan terhadap
kekuatan asing, dan sakit hati karena tidak menerima penghargaan Nobel
Perdamaian.
Pertama, Negara
AS itu memiliki utang yang sangat banyak. Utang nasionalnya pada Januari 2026
telah mencapai angka lebih dari US$38 triliun yang kalau dirupiahkan sekitar
Rp641.820 triliun. Besar sekali.
Jika kita bandingkan dengan utang Indonesia, berbeda
jauh. Utang Indonesia itu bisa dikatakan sangat sedikit, yaitu hanya menembus
Rp9.400 triliun lebih hingga akhir kuartal III tahun 2025.
Utang AS itu berapa kali lipat utang Indonesia?
Hitung saja sendiri.
Tentunya, AS harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk
membayar semua utang-utangnya. Hal itu mendorong Trump untuk menguasai
negeri-negeri lain agar mendapatkan lagi sumber daya alam seperti minyak di
Venezuela; hasil Bumi di Green Land, Denmark; minyak di Iran. Upaya menguasai
negara lain itu tentunya mendapatkan perlawanan dari negara yang berada dalam
ancamannya.
Kedua, uang
dollar AS yang semakin lemah dalam bisnis internasional. Banyak negara yang
mulai gerah dengan terlalu berkuasanya dollar AS sehingga hanya menguntungkan
AS dan merugikan negaranya sendiri. Oleh sebab itu, mulai banyak negara yang
tidak ingin menggunakan dollar AS. Presiden Venezuela Maduro ditangkap AS salah
satunya karena akan menggunakan negaranya untuk uji coba penggunaan mata uang
Cina Yuan dalam bisnis internasional. Rusia semakin memperkuat Rubel. Cina
tentu saja mendorong Yuan. Dalam kelompok Brics sendiri mulai menguat untuk membuat
mata uang baru di kalangan mereka. Di Indonesia sendiri mulai banyak orang yang
mengalihkan uangnya menjadi logam mulia (LM) atau emas. Bahkan, generasi muda
mulai menabung untuk membeli emas karena daya tahan nilai tukarnya lebih kuat
dibandingkan uang.
Ketiga, AS
ketakutan terhadap menguatnya pengaruh Cina dan Rusia di dunia. Kedua negara saingan
AS ini memang semakin menunjukkan kekuatannya, baik secara ekonomi maupun
militer. Meskipun AS menghambat kemajuan kedua negara tersebut dengan beragam
sanksi dan ancaman, Cina dan Rusia semakin kuat mempengaruhi dunia sehingga
membuat AS tampak semakin lemah.
Keempat, Presiden
Trump merasa sakit hati tidak mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Dia merasa
sudah melakukan banyak hal untuk perdamaian dunia, tetapi orang yang meraih Nobel
Perdamaian pada 2025 adalah bukan dirinya, melainkan MarĂa Corina Machado,
pemimpin oposisi Venezuela, atas perjuangannya dalam mempromosikan hak-hak
demokrasi, transisi damai, dan melawan kediktatoran di negaranya.
![]() |
| Presiden AS Donald Trump (Foto: ANTARA News) |
Rasa sakit hatinya ini dapat terlihat dari pengakuannya
sendiri. Karena tidak mengapatkan Nobel Perdamaian, Trump sudah tidak ingin
lagi memikirkan perdamaian dunia. Dia akan lebih memikirkan negaranya sendiri.
Perdamaian dunia bukan prioritasnya.
Foto Presiden AS Donald Trump saya dapatkan dari ANTARA
News.
Bisa dibayangkan bukan, negara sekuat dan sekaya AS tak
lagi memikirkan perdamaian dunia?
Dia akan lebih banyak menggunakan kekuasaannya untuk
kepentingan negaranya.
Bagaimana dengan sikap kita, Indonesia?
Indonesia harus berpegang teguh pada persatuan dan
politik luar negeri bebas aktif. Berteman dengan siapa saja sepanjang tidak
merugikan kita.
Sampurasun.

No comments:
Post a Comment