Sunday, 25 January 2026

Utang Banyak, Uang Lemah, Ketakutan, dan Sakit Hati Kombinasi Penyebab Perang Dunia Ketiga

 

oleh Tom Finaldin

 

Bandung, Putera Sang Surya

Kegaduhan dunia saat ini, 2026, yang bisa menyebabkan perang dunia ketiga bisa dikatakan karena kondisi Negara Amerika Serikat (AS) yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump. Masalah-masalah di dalam negeri AS ini mendorong Trump untuk mempengaruhi negara lainnya yang akibatnya menyebabkan kegoncangan geopolitik dan ekonomi. Masalah-masalah itu, di antaranya, utang yang banyak, lemahnya uang dollar AS, ketakutan terhadap kekuatan asing, dan sakit hati karena tidak menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

            Pertama, Negara AS itu memiliki utang yang sangat banyak. Utang nasionalnya pada Januari 2026 telah mencapai angka lebih dari US$38 triliun yang kalau dirupiahkan sekitar Rp641.820 triliun. Besar sekali.

            Jika kita bandingkan dengan utang Indonesia, berbeda jauh. Utang Indonesia itu bisa dikatakan sangat sedikit, yaitu hanya menembus Rp9.400 triliun lebih hingga akhir kuartal III tahun 2025.

            Utang AS itu berapa kali lipat utang Indonesia?

            Hitung saja sendiri.

            Tentunya, AS harus memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membayar semua utang-utangnya. Hal itu mendorong Trump untuk menguasai negeri-negeri lain agar mendapatkan lagi sumber daya alam seperti minyak di Venezuela; hasil Bumi di Green Land, Denmark; minyak di Iran. Upaya menguasai negara lain itu tentunya mendapatkan perlawanan dari negara yang berada dalam ancamannya.

            Kedua, uang dollar AS yang semakin lemah dalam bisnis internasional. Banyak negara yang mulai gerah dengan terlalu berkuasanya dollar AS sehingga hanya menguntungkan AS dan merugikan negaranya sendiri. Oleh sebab itu, mulai banyak negara yang tidak ingin menggunakan dollar AS. Presiden Venezuela Maduro ditangkap AS salah satunya karena akan menggunakan negaranya untuk uji coba penggunaan mata uang Cina Yuan dalam bisnis internasional. Rusia semakin memperkuat Rubel. Cina tentu saja mendorong Yuan. Dalam kelompok Brics sendiri mulai menguat untuk membuat mata uang baru di kalangan mereka. Di Indonesia sendiri mulai banyak orang yang mengalihkan uangnya menjadi logam mulia (LM) atau emas. Bahkan, generasi muda mulai menabung untuk membeli emas karena daya tahan nilai tukarnya lebih kuat dibandingkan uang.

            Ketiga, AS ketakutan terhadap menguatnya pengaruh Cina dan Rusia di dunia. Kedua negara saingan AS ini memang semakin menunjukkan kekuatannya, baik secara ekonomi maupun militer. Meskipun AS menghambat kemajuan kedua negara tersebut dengan beragam sanksi dan ancaman, Cina dan Rusia semakin kuat mempengaruhi dunia sehingga membuat AS tampak semakin lemah.

            Keempat, Presiden Trump merasa sakit hati tidak mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian. Dia merasa sudah melakukan banyak hal untuk perdamaian dunia, tetapi orang yang meraih Nobel Perdamaian pada 2025 adalah bukan dirinya, melainkan MarĂ­a Corina Machado, pemimpin oposisi Venezuela, atas perjuangannya dalam mempromosikan hak-hak demokrasi, transisi damai, dan melawan kediktatoran di negaranya.


Presiden AS Donald Trump (Foto: ANTARA News)


            Rasa sakit hatinya ini dapat terlihat dari pengakuannya sendiri. Karena tidak mengapatkan Nobel Perdamaian, Trump sudah tidak ingin lagi memikirkan perdamaian dunia. Dia akan lebih memikirkan negaranya sendiri. Perdamaian dunia bukan prioritasnya.

            Foto Presiden AS Donald Trump saya dapatkan dari ANTARA News.

            Bisa dibayangkan bukan, negara sekuat dan sekaya AS tak lagi memikirkan perdamaian dunia?

            Dia akan lebih banyak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan negaranya.

            Bagaimana dengan sikap kita, Indonesia?

            Indonesia harus berpegang teguh pada persatuan dan politik luar negeri bebas aktif. Berteman dengan siapa saja sepanjang tidak merugikan kita.

            Sampurasun.

No comments:

Post a Comment