oleh
Tom Finaldin
Bandung,
Putera Sang Surya
Dalam rumah tangga kerap
diwarnai berbagai “bumbu” kehidupan yang terkadang terasa manis, kadang terasa
pedas. Namanya juga bumbu, ada manis, pedas, terkadang asam. Itulah rumah
tangga. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad saw mengatakan bahwa orang muslim yang
menikah itu diibaratkan telah melaksanakan setengah dari ajaran Islam. Lumayan
berat hidup berumah tangga itu.
Ketika berhadapan dengan masa-masa sulit, sebuah rumah
tangga diuji dengan berbagai masalah yang jika tidak bijak menghadapinya, bisa
berubah menjadi perceraian atau perpisahan. Perjuangan untuk tetap bertahan
dalam sebuah keluarga utuh adalah sangat berat dan membutuhkan keseriusan
seluruh anggota keluarga. Semuanya harus belajar mau menerima keadaan sulit dan
harus belajar pula menerima keadaan bahagia. Kesulitan dan kebahagiaan itu
datang silih berganti tidak pernah berhenti. Hanya para pengkhayal yang selalu
berharap segalanya selalu berada dalam
keadaan senang, padahal kesenangan itu baru dirasakan indahnya jika telah
melalui masa sulit.
Apabila terjadi pertengkaran, percekcokan, dan
perselisihan paham di dalam keluarga, terutama di antara pasangan suami-istri,
hendaklah diselesaikan terlebih dahulu berdua dan tidak perlu ada pihak lain
yang tahu. Apabila masalah yang terjadi tidak dapat diselesaikan berdua, bolehlah
diselesaikan dengan mengajak “juru damai” dari keluarga masing-masing.
Kata Allah swt, “Jika
kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru
damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan.
Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah
memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha
Teliti.” (QS An Nisa 4 : 35)
Untuk mengadakan perbaikan, kedua juru damai dari
keluarga laki-laki dan perempuan itu harus memiliki niat baik untuk kembali
membuat rukun dan harmonis pasangan suami-istri itu. Hendaknya, para juru damai
ini adalah orang-orang berwibawa yang dihormati dan didengar pendapatnya oleh
pasangan suami-istri itu. Jika para juru damai ini benar-benar tulus membuat
segalanya kembali lurus, pasti Allah swt akan melunakkan hati pasangan
suami-istri itu untuk kembali jatuh cinta dan berada dalam keadaan harmonis.
Hal yang banyak terjadi saat ini adalah justru
sebaliknya. Pihak istri mengajak keluarganya untuk menyudutkan suaminya.
Demikian pula, suami mengajak keluarganya untuk membela dirinya sendiri dan
menyalahkan istrinya. Akibatnya, permasalahan tidak selesai karena seluruh
keluarga dari kedua belah pihak sudah terpolarisasi dalam dua kekuatan yang
saling menyerang. Cara seperti ini sungguh sangat buruk dan selalu berakhir
dengan buruk, perceraian.
Perceraian adalah diperbolehkan, tetapi sesungguhnya
sangat dibenci oleh Allah swt. Meskipun Allah swt membenci perceraian, tak ada
dosa bagi mereka yang bercerai, kecuali kebohongan dan fitnah yang terjadi di
antara keduanya.
Bercerai itu boleh, tetapi akan lebih baik jika hidup
kembali dalam cinta yang harmonis dan rukun seiya sekata.
Sampurasun
No comments:
Post a Comment